"kamu ini meledek terus," ucap Leo."Hehe... Lagian kelihatan ada yang nyembul sih," balas Sindi terkekeh."Hmm. Ya wajar kan aku normal, kalau cuaca dingin gini ya biasa," ucap Leo tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sindi."Owh gitu yah? Hehe.. Oya, Mas. Makasih ya," ucapnya. "Kalau nggak dijemput, aku bisa sakit.""Iya," jawab Leo. "Lain kali bawa payung."Sindi mengangguk. "Iya, Mbak Dinda juga sering ngomel soal itu."Nama Dinda disebut, dan entah kenapa itu membuat Leo sedikit lebih tenang. Mobil melaju menuju rumah. Di sepanjang jalan, percakapan mereka ringan, tentang kuliah, tentang rencana Sindi kembali ke kos setelah urusannya selesai, tentang Dinda yang sejak kecil memang selalu perhatian pada keluarganya."Mbak Dinda baik banget ya," ucap Sindi tiba-tiba. "Aku nginep beberapa hari, dia nggak keberatan sama sekali."Leo mengangguk. "Dia memang begitu.""Mas beruntung," lanjut Sindi tulus. "Punya istri kayak Mbak Dinda."Leo terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Iya. Aku t
Terakhir Diperbarui : 2025-12-17 Baca selengkapnya