Pukul sembilan malam. Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa lebih tenang. Dinda sudah berada di ranjang, bersandar pada bantal, mengenakan senyum kecil yang jarang Leo lihat akhir-akhir ini.Leo berbaring di sampingnya. Tangannya meraih tangan Dinda, mengusap punggungnya perlahan. "Kamu capek hari ini?" tanyanya lembut.Dinda menggeleng pelan. Ia justru bergeser mendekat, menyandarkan kepala di dada Leo. "Gak, Mas. Aku cuma… pengin dekat sama kamu aja," jawabnya manja.Leo tersenyum, mencium puncak kepala istrinya. Ia bisa merasakan ada sisa kesedihan yang belum sepenuhnya hilang. Karena itu, ia berusaha bercanda, berusaha membuat Dinda merasa aman."Oya, Mas. Kamu tahu, kan," lanjut Dinda lirih, jemarinya menggambar garis samar di dada Leo, "kata bidan… usia kehamilan sembilan bulan itu bagus kalau kita sering melakukan itu. Biar nanti lancar."Ucapan itu membuat Leo terdiam sesaat. Ada senyum tipis, ada juga rasa tersanjung. Cara Dinda m
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya