"Tenang, Mas," potong Sindi, masih tersenyum. “Aku nggak maksa. Aku cuma… ada aja buat, Mas."Ia bangkit dari kursinya, membawa piring ke wastafel. Gerakannya santai, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi justru itulah yang membuat Leo makin gelisah. Jarak di antara mereka terasa menyempit, meski secara fisik tak berubah.Leo berdiri, berjalan beberapa langkah mendekati jendela. Ia butuh udara. Butuh alasan untuk kembali berpikir jernih."Aku harus kuat. Ingat Leo... Kamu punya banyak masalah, jangan buat masalah lagi, jangan sampai tergoda oleh Sindi," batinnya.Namun bayangan Ayu yang memohon di kafe, suara Dinda yang terdengar keberatan di telepon, dan tatapan Sindi yang penuh pengertian, semuanya bercampur jadi satu."Sindi," ucap Leo akhirnya, suaranya lebih pelan. "Jangan buat aku terpancing."Sindi menoleh dari wastafel. "Aku tahu, Mas.""Keadaanku sekarang lagi kacau," ucap Leo, pelan."Aku juga tahu," jawabnya jujur.Ia mendekat beberapa langkah, berhenti pada jarak aman. "Justru
Última actualización : 2026-02-02 Leer más