Setengah jam kemudian, Ellan berdiri di koridor lantai tujuh rumah sakit. Tangannya dingin, keringat membasahi pelipisnya.Dari balik kaca ruang perawatan VVIP, dia bisa melihat tubuh Sheana. Terbaring pucat, bibirnya kering, rambutnya setengah tertata. Infus menancap di pergelangan tangan, monitor di sebelah kiri berdetak lambat namun stabil.Dan di sisi ranjang itu—Dirga. Duduk tenang, menyuapkan sup bening ke mulut Sheana dengan sabar. Tangannya sesekali menyeka sudut bibir Sheana. Lalu membetulkan selimut dan membelai rambut istrinya, penuh kelembutan. Seolah luka masa lalu tak pernah terjadi.Dirga mencondongkan tubuh, lalu mengecup kening Sheana pelan. “Tidur lagi, ya? Aku di sini,” bisiknya, nyaris tak terdengar, tapi cukup jelas untuk menghantam dada Ellan dari jauh.Sheana hanya mengangguk lemah. Ia tak melawan. Tak menarik diri. Justru terlihat nyaman—pasrah.Ellan ingin melangkah masuk.Ingin memeluknya, minta maaf, bi
Read more