[Satu bulan kemudian]“Sayang, apa kamu tadi ada mendengar sesuatu?” seru Arnold dengan mata berbinar penuh antusias. Kepalanya masih menempel lembut di perut istrinya yang masih terlihat rata. “Sepertinya Pudding kecil kita barusan menendangmu.”Ia menatap Sherin dengan harapan yang begitu jelas di wajahnya, seolah-olah momen kecil itu adalah keajaiban terbesar yang pernah ia temukan sepanjang hidupnya.Sherin pun terkekeh geli. Jemarinya menyisir rambut suaminya dengan penuh sayang. “Suamiku, aku baru hamil dua bulan. Kalau di usia segini dia sudah bisa nendang, aku rasa nanti besar dia bisa jadi atlet nasional,” selorohnya.“Tapi, tadi aku benar-benar mendengar suaranya,” balas Arnold, masih bersikeras. Alisnya sedikit berkerut, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Sherin menahan tawa, lalu berdeham kecil. Rona merah tipis telah menyembul di kedua pipinya. “Aku rasa … itu suara perutku,” cicitnya.Arnold terdiam sesaat. Lalu, perlahan senyum jahilnya muncul di bibirnya. “Oh, j
Read More