“Baiklah. Aku janji, lain kali aku akan cerita,” ujar Arnold sembari mengusap punggung tangan wanita itu. “Jangan terlalu emosional begitu. Pudding bisa ikut terpengaruh. Maafkan aku, hm?”Mendengar penyesalan Arnold, Sherin pun memaksakan senyuman kecil di bibirnya meskipun rasa cemas masih menggelayuti dadanya.“Kalau begitu, sekarang makanlah,” tuntut Sherin dengan nada yang tidak menerima penolakan.“Kalau kamu sampai jatuh sakit hanya karena telat makan, bagaimana kamu bisa mengurusku dan Puding kecil kita nanti?” imbuh wanita itu, mengingatkan.“Iya, Sayang,” jawab Arnold patuh. Namun, tatapannya tertuju pada tablet kerjanya yang tergeletak di meja. “Tapi, aku akan memakannya setelah selesai membaca satu laporan kerja ini.”Sherin refleks mendelik suaminya dengan tajam.“Arnold─!”Pria itu refleks mengangkat kedua tangannya, menyerah kalah sebelum Sherin sempat meluncurkan omelan panjang. “Baiklah, Sayang. Aku mengerti,” ucapnya, benar-benar tidak berdaya di bawah kendali wanita
Read more