Devina berjalan dengan lancar hingga sampai di depan kantor Jay. Asisten Jay langsung menyambutnya. "Bu Devina sudah datang, ya. Silakan masuk."Devina tersenyum tipis. Namun, saat asisten itu mendorong pintu kantor presdir untuknya, senyum di wajahnya langsung membeku. Di kursi kerja Jay, yang duduk bukan Jay, melainkan Siria.Melihatnya masuk, Siria mengangkat alis dan tersenyum. "Bu Devina, lama nggak ketemu."Raut wajah Devina sedikit berubah. Dia menyapu pandangan ke dalam ruangan, tidak terlihat sosok Jay sama sekali. Dia memaksakan diri tetap tenang. "Maaf, aku cari Jay.""Dia sedang rapat." Siria berdiri dengan anggun, lalu melangkah perlahan mendekatinya. "Kalau ada urusan, bicara denganku juga sama saja.""Maaf, ini urusan antara aku dan Jay." Devina tetap menjaga ketenangannya."Oh?" Siria tersenyum ringan. "Tapi sekarang, urusannya juga menjadi urusanku."Devina merasakan nada provokasi dalam sikap Siria. Dia menarik napas dalam, lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya, bernia
Read more