LOGINDi dalam negeri, hari sudah pagi. Brielle merapikan dokumen yang semalam belum sempat dia selesaikan karena lembur, lalu memasukkannya ke tas laptop.Saat turun ke lantai bawah, Anya masih bermain tebak benda bersama Gaga di sofa ruang tamu.Rasa bersalah seketika menyelimuti hati Brielle. Karena pekerjaan, waktu yang bisa dia habiskan bersama putrinya memang masih terlalu sedikit.Dia meletakkan tas laptopnya, lalu menghampiri Anya. "Hari ini Mama akan pulang lebih cepat supaya bisa menemani kamu, ya.""Ma, ulang tahun Papa sebentar lagi. Apa Mama akan menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Papa?" Anya mendongak dan bertanya.Brielle sedikit tertegun. Ulang tahun Raka? Benar .... Tanggal 12 Agustus adalah hari ulang tahunnya.Selama mereka masih menikah, setiap tahun dia selalu mengingat tanggal itu. Namun, setelah bercerai selama tiga tahun, dia sudah hampir melupakannya. Atau lebih tepatnya, dia memang tak lagi sengaja mengingat tanggal itu."Ya, Mama akan siapkan hadiah buat Papa." Br
Sejak kecil, yang dia terima hanyalah pukulan dan bentakan.Saat beranjak remaja, ibunya membiarkannya hidup tanpa perhatian. Baru setelah Devina berhasil mengubah nasib dengan berada di sisi Raka, sang ibu perlahan mulai bersikap baik kepadanya.Namun, kini ucapan ibunya membuat Devina akhirnya mengerti. Selama bertahun-tahun, meski dia telah memberi ibunya kehidupan yang serba berkecukupan, pada akhirnya dia tetap tidak pernah mendapatkan sedikit pun perhatian atau kasih sayang dari ibunya.Padahal dirinya pernah dipuja oleh jutaan penggemar, pernah dijuluki sebagai dewi piano kelas dunia. Bagaimana bisa harga dirinya yang begitu tinggi harus jatuh hingga ke titik seperti ini?"Devina, Jay ... Jay itu dulu pernah suka sama kamu, 'kan? Memang sekarang dia sudah menikah, tapi kamu masih bisa mencarinya! Minta saja sedikit belas kasihan darinya. Pasti sudah cukup untuk melunasi utang Ibu, 'kan?""Diam!" Devina membentak dengan marah. Suara tajamnya hampir memekakkan telinga. Dia menatap
"Kalau nggak percaya, tanyakan saja ke ibumu! Dia sendiri yang paling tahu berapa utangnya."Devina percaya pemilik toko itu tidak sedang berbohong. Bagaimanapun, pria itu sudah membuka usaha di daerah ini selama tujuh-delapan tahun."Aku yang akan bayar." Setelah berkata begitu, Devina mengeluarkan ponselnya.Melihat itu, pemilik toko juga segera mengeluarkan ponselnya untuk menerima pembayaran.Setelah notifikasi penerimaan uang sebesar 600 juta berbunyi, pria itu berkata dengan niat baik, "Lain kali nasihati ibumu. Kalau nggak punya uang, jangan berjudi lagi."Setelah menutup pintu, hati Devina tenggelam ke dasar. Dalam waktu kurang dari setengah bulan, dia sudah dua kali membantu ibunya menghadapi kejaran penagih utang.Meski masih memiliki uang, dia sama sekali tidak ingin menggunakannya untuk menutupi utang judi sang ibu.Setengah jam kemudian, Ivony pulang. Melihat putrinya duduk di sofa, wajahnya langsung memperlihatkan sedikit rasa bersalah. "Devina, kamu sudah makan?"Tatapan
Raka menerimanya, lalu menyampirkannya di lengan dengan santai. Dia mengambil iPad dan berkata, "Ayo, kita jenguk Harvis."Keduanya berjalan ke luar ruang istirahat satu demi satu.Di kursi lorong luar, Gavin yang sejak tadi menunggu segera berdiri dan menerima iPad yang diserahkan Raka.Harvis juga sudah sadar. Dia sedang membaca dokumen. Kondisinya tampak jauh lebih baik."Brielle, kamu dan Pak Raka kembali bekerja saja. Aku nggak perlu dijaga lagi," kata Harvis kepadanya.Brielle sempat ragu.Cherlina ikut menimpali, "Ya, Brielle. Kamu kembali ke laboratorium saja. Biar aku yang jaga di sini. Kalau ada apa-apa, nanti aku langsung hubungi kamu."Raka juga berkata kepada Brielle, "Ayo, aku antar kamu ke laboratorium."Brielle akhirnya hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Kak Harvis, kalau begitu aku pergi dulu."Dia menoleh kepada Cherlina. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku."Setelah keluar dari rumah sakit, Raka mengantar Brielle kembali ke laboratorium dengan mengemudikan mobilny
Sinar matahari menembus celah tirai yang hanya tertutup separuh, meninggalkan bercak-bercak cahaya di lantai. Raka duduk di sofa di seberang, menyandarkan tubuhnya dengan santai.Di tangannya ada sebuah iPad. Layar itu menampilkan pergerakan pasar saham dunia secara langsung. Grafik K berwarna merah dan hijau silih berganti memantulkan cahaya redup di mata Raka yang dalam. Jari-jarinya yang panjang sesekali mengusap layar, melakukan analisis dan memberi beberapa catatan.Namun setelah melihatnya beberapa saat, perhatiannya perlahan beralih kepada wanita yang sedang tertidur di samping.Semalam Brielle memang kurang tidur. Ditambah lagi masa menstruasinya sudah hampir tiba, membuatnya lebih mudah mengantuk dari biasanya.Saat ini, dia tertidur sangat lelap. Bulu matanya yang lentik terpejam lembut menutupi kelopak matanya. Tanpa ekspresi dingin dan kewaspadaan yang biasanya selalu dia tunjukkan, wajahnya tampak begitu lembut dan damai.Tatapan Raka perlahan menjadi semakin dalam. Dia me
"Hanya luka daging yang agak dalam. Istirahat beberapa hari juga akan sembuh."Setelah berkata begitu, Harvis mengangkat kepala dan memandang Raka. "Pak Raka, tenang saja. Ini nggak akan memengaruhi peluncuran produk minggu depan."Mendengar itu, Brielle langsung menoleh ke arah Raka.'Jangan bilang dia masih meminta Harvis menghadiri acara peluncuran produk?' batinnya.Seolah membaca tatapan menyalahkan Brielle, Raka berkedip dengan wajah yang tampak tidak bersalah, lalu berkata kepada Harvis, "Lukamu cukup parah. Jangan memaksakan diri."Harvis langsung tampak sedikit canggung.Baru saat itu dia sadar ucapannya tadi telah membuat Brielle salah paham. Dia buru-buru menjelaskan, "Brielle, jangan salah paham. Pak Raka nggak maksa aku. Aku sendiri yang ingin datang. Tolong jangan menyalahkan Pak Raka."Brielle juga sadar bahwa dirinya tadi bereaksi berlebihan.Dengan sifat Harvis dan betapa pentingnya proyek itu baginya, selama kondisi tubuhnya masih memungkinkan, dia pasti akan bersiker
Suasana hati Brielle sangat baik, begitu pula Lambert. Dia sebisa mungkin tidak memberi tekanan pada Brielle, menjaga suasana tetap ringan dan menyenangkan.Pada saat yang sama, beberapa kali ketika dia memotret anak-anak, dia sengaja memasukkan Brielle ke dalam bingkai. Di bawah lensa kamera, senyu
"Ke depannya, jangan sembarangan sentuh barang-barangku." Suara Raka terdengar sebagai peringatan.Meskipun tidak sampai berteriak, sejak kecil Raline belum pernah menerima ucapan keras dari kakaknya. Di telinganya, itu sama saja seperti dibentak. Rasa sedih langsung meluap. "Oke, aku nggak akan sen
Brielle menutup pintu, lalu menelepon Frederick, menyampaikan apa yang baru saja dikatakan Raka, serta memintanya menyiapkan rencana penanganan terbaik.Di seberang sana, Frederick juga menghela napas lega. "Aku juga percaya Pak Raka pasti punya cara untuk mengatasinya.""Rapat sore dibatalkan. Kamu
"Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu sampai-sampai kamu sakit begini?" tanya Raline langsung.Devina tersenyum pahit. "Raline, jangan ditanya lagi. Kata-katanya cukup menyakitkan, lebih baik nggak usah diceritakan.""Aku tetap ingin dengar. Cepat kasih tahu aku." Raline benar-benar ingin tahu sejaha







