Jay tahu dirinya salah. Dengan wajah muram, dia kembali ingin meraih botol minuman.Lambert segera menggeser botol itu. "Jay, perasaan bukanlah segalanya dalam hidup. Kamu harus bangkit."Melihat Jay seperti ini, Lambert jadi merindukan Jay yang dulu. Meski terkesan sembrono, dulu dia penuh semangat, punya tujuan dan harga diri. Sekarang, pria itu malah runtuh karena sebuah hubungan."Aku pikir selama aku cukup berusaha dan cukup tulus, suatu hari dia pasti akan tergerak. Tapi sekarang aku baru paham, Raka bahkan nggak perlu melakukan apa pun saja, dia sudah menang," ucap Jay dengan nada lemah dan putus asa.Mendengar hal itu, perasaan Lambert bercampur aduk. Dia menepuk bahu Jay. "Jangan minum lagi. Aku antar kamu pulang. Tidur yang nyenyak dulu. Besok aku temani kamu makan."Jay tidak lagi melawan. Dia membiarkan Lambert menopangnya, lalu berjalan tertatih keluar.Setelah memasukkan Jay ke dalam mobil, Lambert langsung mengemudi menuju vila Jay. Dia tahu, dalam urusan perasaan, orang
اقرأ المزيد