Hari itu, suasana di ruang rapat utama PT Pratama Group terasa lebih formal dari biasanya. Sejak beberapa minggu terakhir, perusahaan kami sedang membahas rencana ekspansi bisnis yang cukup besar, dan hari ini adalah hari pertemuan dengan calon investor yang telah lama ditunggu-tunggu. Aku duduk di samping Dion, memegang catatan rapat dengan tangan yang sedikit gemetar—bukan karena gugup, tapi karena aku baru saja kembali bekerja setelah cuti melahirkan Kayla. Dion menoleh sebentar, tersenyum tipis seolah ingin menenangkanku, lalu kembali fokus pada pintu ruang rapat yang akan segera dibuka. "Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Mohon maaf atas keterlambatan saya," suara berat dan lembut terdengar dari arah pintu. Semua orang menoleh. Seorang pria berusia sekitar 30 tahun, bertubuh tegap, berwajah tampan dengan sorot mata yang tajam namun hangat, masuk ke dalam ruangan. Dia mengenakan jas abu-abu yang rapi, rambutnya disisir rapi, dan membawa tas kerja kulit berwarna cokelat tua.
Read more