Ponsel Aditya bergetar pelan.Ia mengangkatnya tanpa melihat layar lebih dulu. “Ya.”Suara Levin terdengar tegang, nyaris tak memberi jeda. Laporan disampaikan cepat—tentang tekanan dari mitra, keputusan yang tertahan, dan dewan yang sudah menunggu sejak malam.Aditya menutup mata sesaat, lalu berkata tenang, “Rapat jam sebelas malam WIB. Semua kepala divisi sudah siap, kan?”Levin menarik napas di seberang sana. “Sudah, Tuan. Mereka memang sedang menunggu Anda.”“Aku akan masuk dari Baltimore.”Panggilan terputus.Tanpa membuang waktu, Aditya membuka laptopnya di meja yang baru ia beli sebelum tiba di rumah sakit tadi.Ia duduk, melonggarkan kancing jas, lalu menyalakan kamera. Layar langsung dipenuhi wajah-wajah yang tegang—beberapa di ruang rapat, beberapa dari kantor masing-masing.“Selamat malam,” katanya singkat.Suara di layar langsung mereda.Aditya tidak tersenyum. Tidak berbasa-basi.“Kita mulai,” ucapnya datar.Ia mendengarkan laporan satu per satu, memotong saat perlu, mel
Last Updated : 2026-01-23 Read more