Pagi berikutnya, Aria datang seperti biasa.Wajahnya masih pucat, sisa dari ruang dokter. Tangannya dingin, tapi langkahnya tetap lurus—seolah rutinitas ini adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.Saat Aditya duduk di seberang kaca pembatas, Aria langsung tahu.Lebam itu tidak besar, tapi ungu gelap. Bukan hanya di tulang pipinya, tapi sudut bibirnya juga, sampai ada bekas robekan meski kecil di sana.“Aditya, kamu …?”Ya, dia tidak perlu melanjutkan pertanyaannya, karena jawabannya sudah cukup jelas. Dada Aria sesak, dan hatinya terasa sakit.Namun di depannya, Aditya masih menunjukkan senyum meski itu jelas dipaksakan. “Aku tidak apa-apa,” katanya. “Aku tidak sengaja tersandung meja dan jatuh ke lantai.”Dia menyentuh lukanya ringan, seolah benar-benar tidak ada apa-apa. “Kau lihat, ini hanya luka kecil. Tidak perlu kau pedulikan.”Tapi, semakin Aditya mengatakan baik-baik saja, semakin hati Aria terasa perih. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi dia je
Last Updated : 2026-01-13 Read more