Vania menghapus air mata yang terus merambat di pipinya. "Aku akan mencari kesempatan, bicara dengan papaku. Aku akan memintanya untuk memohon maaf pada Mbak Alina dan Bu Endah. Juga padamu." Vania memandang Erlangga dengan linangan air mata."Aku sudah bertekad. Setelah bicara denganmu aku akan jujur pada Mama dan Mbak Alina. Tentang siapa kamu dan hubungan kita," ujar Erlangga."Ya, jujur saja kalau aku anak seorang bajingan. Dokter yang dianggap teman oleh Mbak Alin, ternyata anak seorang lelaki yang membuat hidupnya hancur. Tapi jangan pernah ceritakan tentang hubungan kita. Mari kita berpisah baik-baik, tanpa mereka tahu kalau kita sudah menikah.""Aku akan mengatakannya, karena aku tak ingin berpisah denganmu," jawab Erlangga pasti.Vania tersenyum miris. "Kamu belum puas membalas dendam, Mas?"Mereka saling pandang."Apa aku juga perlu hamil, kehilangan calon anak, terpuruk, dan aku tak bisa meraih mimpiku sebagai seorang dokter, baru kamu anggap dendam ini impas?"Erlangga men
Terakhir Diperbarui : 2025-08-02 Baca selengkapnya