Sensasi itu seperti sengatan listrik. Arif dan Rayhan melompat berdiri serempak, serempak tanpa komando, tanpa sadar. Zira mencengkeram roknya, matanya memancarkan ketakutan dan harapan.Dokter Naya, dokter obgyn muda yang pernah dibimbing Rayhan, keluar. Wajahnya basah oleh keringat, rambutnya lepek, dan ia tampak kelelahan, seperti seorang pejuang yang baru saja memenangkan perang yang brutal. Namun, di wajahnya yang lelah itu, ada senyum yang lebar dan lega, seperti sinar matahari setelah badai.“Operasi berjalan lancar,” katanya pelan, suaranya serak tetapi dipenuhi kelegaan.Kata-kata itu, meskipun sederhana, menghantam Rayhan dan Arif seperti ombak besar. Air mata yang tidak mereka sadari telah tertahan, kini mulai menggenang di mata Rayhan. Arif memejamkan mata, kepalanya bersandar ke dinding, ia menghela napas yang terasa tertahan selama satu jam lebih.“Bayi perempuan sudah lahir. Sehat. Berat 3.2 kilogram. Ada sedikit kesulitan pernapasan awal karena stres janin yang aku
Terakhir Diperbarui : 2026-01-26 Baca selengkapnya