“Bangun,” desis Arif, suaranya gemetar. Ia tidak bisa menahan rasa terkejut dan rasa jijik pada dirinya sendiri karena telah menang.Rayhan tidak bergerak. Keningnya tetap menempel di lantai dingin itu, merasakan dinginnya ubin marmer yang menembus kulitnya.“Aku tahu, ini tidak cukup,” suara Rayhan terdengar teredam, tetapi setiap kata menusuk hati Arif. “Aku tahu, pengakuanku di depan IDI tidak cukup. Aku tahu, kehilangan SIP-ku tidak sebanding dengan kehancuran yang aku bawa ke dalam hidupmu. Aku—aku datang untuk meminta maaf, Arif. Bukan sebagai rival yang mencoba menjatuhkan, tetapi sebagai sahabat yang telah melanggar sumpah setia kami. Aku meminta maaf atas kehancuran rumah tanggamu, atas luka yang aku torehkan pada Zira, dan yang paling utama, atas kesalahan yang aku lakukan pada Alesha, putri kandungmu.”Rayhan berhenti sejenak, mengambil napas, lalu melanjutkan: “Aku tahu, aku telah menjadi pengkhianat terburuk dalam hidupmu. Aku telah merusak fondasi kepercayaan yang ki
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya