Anjani terpaku ketika melihat Vana berdiri dengan wajah basah oleh air mata. Langkahnya mendekat. "Vana...." Tenggorokannya serasa tercekik. "Kamu mendengarnya?" "Mbak..." Vana tak mampu berkata. Kenyataan yang baru saja ia dengar membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Kakaknya Farhan akan memiliki perasaan tak pantas pada ibunya. “A-apa, I-ibu tahu...?" Anjani memeluk tubuh Vana erat, melihat Vana menangis dia ikut menangis. Rasa sakit yang selama ini ia pendam tumpah dalam pelukan adik iparnya. "Sakit sekali, Vana. Aku nggak sanggup." "Mbak Anjani nggak sendiri, masih ada aku." Vana memeluk Anjani tak kalah erat. Untuk beberapa saat mereka berpelukan hingga Anjani melerainya. Ia mengajak Vana untuk ke kamar gadis itu, ada banyak hal yang ingin ia katakan pada adik iparnya. Sesampainya di kamar Vana langsung mengunci pintu, sedangkan Anjani sudah duduk di tempat tidur. "Mbak, kapan Mbak Anjani tahu tentang perasaan Mas Farhan pada-" Vana tak sanggup meneruskan perkataa
Baca selengkapnya