Share

Bab 14

Author: Sulitina
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-21 10:04:01

"Benci katamu?“ Farhan tersenyum sinis. "Kamu tidak akan bisa membenciku, Anjani!" ucapnya penuh percaya diri. "Kamu sangat mencintaiku!"

Kata cerai yang dilontarkan hanya gertakan wanita itu saja. Farhan yakin Anjani tidak akan pernah meninggalkannya wanita itu tidak akan bisa hidup tanpanya.

"Kamu hanya cemburu, Anjani." Bibirnya tersenyum miring salah satu tangannya mengelus wajah Anjani. "Kamu sangat mencintaiku. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpaku, hem?“

“Kamu terlalu percaya diri, Mas!
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 15

    Anjani terpaku ketika melihat Vana berdiri dengan wajah basah oleh air mata. Langkahnya mendekat. "Vana...." Tenggorokannya serasa tercekik. "Kamu mendengarnya?" "Mbak..." Vana tak mampu berkata. Kenyataan yang baru saja ia dengar membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Kakaknya Farhan akan memiliki perasaan tak pantas pada ibunya. “A-apa, I-ibu tahu...?" Anjani memeluk tubuh Vana erat, melihat Vana menangis dia ikut menangis. Rasa sakit yang selama ini ia pendam tumpah dalam pelukan adik iparnya. "Sakit sekali, Vana. Aku nggak sanggup." "Mbak Anjani nggak sendiri, masih ada aku." Vana memeluk Anjani tak kalah erat. Untuk beberapa saat mereka berpelukan hingga Anjani melerainya. Ia mengajak Vana untuk ke kamar gadis itu, ada banyak hal yang ingin ia katakan pada adik iparnya. Sesampainya di kamar Vana langsung mengunci pintu, sedangkan Anjani sudah duduk di tempat tidur. "Mbak, kapan Mbak Anjani tahu tentang perasaan Mas Farhan pada-" Vana tak sanggup meneruskan perkataa

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 14

    "Benci katamu?“ Farhan tersenyum sinis. "Kamu tidak akan bisa membenciku, Anjani!" ucapnya penuh percaya diri. "Kamu sangat mencintaiku!" Kata cerai yang dilontarkan hanya gertakan wanita itu saja. Farhan yakin Anjani tidak akan pernah meninggalkannya wanita itu tidak akan bisa hidup tanpanya."Kamu hanya cemburu, Anjani." Bibirnya tersenyum miring salah satu tangannya mengelus wajah Anjani. "Kamu sangat mencintaiku. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpaku, hem?““Kamu terlalu percaya diri, Mas! Tunggu saja surat gugatan cerai datang padamu!“"Kau!" Farhan meremas kedua tangan Anjani, matanya menatap tajam dengan rahang mengeras. “Kita lihat. Setelah kau sepenuhnya menjadi milikku, apa kau masih bisa pergi?“ Dia menyeringai.“Mas! Jangan gila kamu! Lepaskan aku!“ Jantungnya berdebar kencang ketika melihat Farhan semakin mendekatkan wajah. "Kamu nggak cinta sama aku!" Anjani berontak.Farhan berhenti ia kembali menatap Anjani dengan senyuman sinis. “Bukankah kamu mencintaiku?“ Dia kemba

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 13

    Bu Vanya menatap suaminya yang terbaring di ranjang pasien dengan tatapan sendu. Berbagai alat penunjang kehidupan menempel di hampir seluruh tubuh. Air mata tak sanggup di bendung melihat kondisi lelaki itu. Tangannya meraih tangan Ayah Panji lalu menggenggamnya erat. "Mas..., kamu pasti sembuh, kan? Seperti sebelumnya? Jangan tinggalin aku ya? Aku gak bisa tanpamu.“ Air matanya semakin deras. Cukup lama menangis hingga tak sadar Anjani sudah berdiri di sampingnya. "Bu..., Ayah pasti sembuh," ucap wanita itu lembut. Anjani merasa bersalah dengan apa yang menimpa Ayah Panji. Andaikan tidak mengutarakan niat bercerai dari Farhan, mungkin Ayah Panji tidak akan terbaring lemah seperti sekarang. Anjani sangat menyesal. Bu Vanya mengusap air matanya, menatap Anjani dengan bibir tersenyum tipis. "Kamu jangan merasa bersalah ya. Ayah memang sudah mengeluh sakit beberapa hari ini. Tidak perlu tunda rencana perceraian kalian." Anjani menunduk kedua tangannya saling meremas. Melihat

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 12

    Anjani menunduk dalam, dia seperti terdakwa yang menunggu dijatuhi hukuman. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Jantungnya berdebar cemas. “Anjani," panggil Ayah Panji. "Apa Farhan tidak baik padamu?" Dia tahu betul sifat menantunya. Anjani tidak akan menggugat cerai jika Farhan bersikap baik. Anjani menatap Ayah mertua dengan mata berkaca. Melihat raut kecewa Ayah Panji membuat hatinya sakit. "Maafkan Anjani, Ayah." Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan isi hatinya. Ayah Panji mengalihkan tatapannya pada Farhan. Tatapannya menghunus tajam. "Ayah kecewa denganmu, Farhan! Anjani istri yang baik! Kenapa kamu tidak bisa memperlakukannya dengan baik?!" Farhan menunduk dalam, dadanya bergemuruh marah. Bercerai dari Anjani tidak pernah terlintas dalam benaknya. "Aku tidak pernah menyetujui perceraian ini!" Ayah Panji menghela napas. Dia bisa melihat wajah tertekan Anjani. Dari pertama datang ke rumah ini, dia sudah bisa melihat hubungan keduanya tak seperti suami

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 11

    Bu Vanya menepis tangan Farhan saat lelaki itu akan memegang tangannya. Menatap Farhan dengan tatapan tak percaya. "Sejak kapan Farhan? Sejak kapan kamu begini?“ Dia menatap Farhan seraya menunjukkan fotonya. Rasanya tak percaya Farhan akan seperti ini. Farhan menunduk merasa bersalah. Sesal dalam hati membuatnya malu luar biasa. Namun, inilah konsekuensi akibat perbuatannya yang menyimpang. “Sejak pertama kali melihatmu. Sebelum kamu menikah dengan Ayah," ungkapnya. Cinta itu tumbuh jauh sebelum Bu Vanya menjadi istri sang ayah. Bu Vanya menatap lekat wajah Farhan. Rasanya tak percaya, anak tirinya akan jatuh cinta padanya. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Rasa kecewa itu ada, tapi dia mencoba untuk memaafkan dan melupakan. “Ibu tidak akan memberitahu ayahmu. Tapi, lupakan perasaanmu. Jalani rumah tanggamu dengan Anjani dengan baik. Ibu gak mau jadi perusak rumah tangga kalian.“ "Kamu gak pernah merusak rumah tangga siapapun!" Farhan menatap lekat wajah wanita yang

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 10

    Pagi tiba seperti biasa. Anjani menjalani aktivitasnya, menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk Farhan. Selesai dengan tugasnya di lantai atas, kini Anjani turun ke lantai bawah, langkahnya menuju dapur. Di sana sudah ada Bu Vanya. Wanita itu sedang membuat kopi untuk ayah mertua. “Pagi, Bu," sapa Anjani sopan. Bu Vanya tersenyum. "Pagi juga, An. Ibu sudah masak untuk sarapan,“ kata Bu Vanya. “Iya, Bu. Tapi lain kali biar Anjani yang masak. Ibu gak usah repot-repot.“ Anjani tersenyum tipis. Teringat saat Farhan memarahinya karena membiarkan Bu Vanya masak sendiri. "Ibu gak repot. Masak untuk anak mantu masak dibilang repot sih.“ Anjani kembali tersenyum tipis. Dia mengambil kopi dan menyeduhnya. Meskipun hati tak lagi sama, tetapi dia masih berstatus istri Farhan. Keperluan lelaki itu masih ia siapkan. “An, mana kopiku?“ Dua wanita itu menoleh saat mendengar suara Farhan. Mereka menatap dengan ekspresi masing-masing. Bu Vanya dengan senyuman, Anjani dengan wajah

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 9

    Anjani meremas selimut dengan kuat. Sentuhan Farhan semakin menuntut. Jika dulu pastilah bahagia yang dirasa, tapi sekarang hanya jijik yang ada. Netranya masih setia terpejam, berharap Farhan menghentikan aksinya. Namun, sepertinya suaminya itu telah diliputi nafsu. "An, bukankah ini yang sela

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 8

    Anjani menampik tangan Farhan, rasa perih di rahang tak sebanding rasa perih di hatinya. "Ke luar Mas!“ Farhan menatap Anjani nanar, tangannya terulur ingin menyentuh pipi Anjani yang memar akibat ulahnya. Namun, tangannya langsung ditampik Anjani kasar. “Aku ingin sendiri.“ Ada rasa bersa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status