Suara pria itu mengandung tawa, seolah tahu tetapi sengaja menantang. "Lari ke mana? Tidak mau aku peluk lagi?""Siapa yang mau kamu peluk."Sedikit rasa harga diri Shanaya membuatnya secara naluriah menolak mengakui.Namun, detik berikutnya, Lucien tiba-tiba bangkit, mengikuti tarikan di jari kelingkingnya, dan dengan mudah menariknya ke pelukan, memeluknya dengan kokoh dan stabil.Dia memeluk pinggang dan punggung Shanaya erat-erat, dan tertawa kecil. "Aku yang mau memelukmu, oke?""Masih mau peluk aku lebih erat lagi?"Dada pria itu hangat dan lebar. Detak jantungnya berdentum satu per satu, menimpa gendang telinga Shanaya, dan di antara napasnya tercium aroma kayu cendana yang sudah sangat dikenalnya.Pelukan yang tak terduga ini membuat hatinya yang seolah tak pernah menemukan tempat selama berhari-hari, perlahan-lahan terasa tenang.Mendengar itu, telinga Shanaya makin panas, seolah terbakar, dan dengan mengumpulkan keberanian, dia mengangkat tangannya yang semula menggantung di
Read more