Namun, karena takut buat Shanaya kaget, Lucien berpura-pura tenang sambil mengusap darah, lalu merangkul bahunya. "Apa yang kamu lakukan berdiri diam seperti itu? Ayo, pulang sama Kakak."Kenangan lama bergemuruh di dalam dadanya, berputar tanpa arah. Tangan yang kini bertumpu di bahunya itu, dengan hangat yang menembus kain, meresap perlahan ke kulit, menyebar ke seluruh tubuh hingga ke setiap ujung sarafnya.Tanpa sadar, Shanaya menengadah, menatap sosok di sampingnya. Pria yang dulu hanyalah seorang remaja, kini telah tumbuh menjadi lelaki tegap dengan sorot mata yang tenang tetapi berbahaya.Selama ini, Shanaya selalu mengira Lucien sudah berubah.Namun mungkin tidak sepenuhnya begitu.Kata-kata itu memang ditujukan pada Helsa, tetapi yang merasakan peringatannya bukan hanya dia, melainkan semua orang yang ada di tempat itu.Jelas sekali, kata-kata itu menunjukkan bahwa Shanaya adalah miliknya.Ini adalah pertama kalinya Lucien secara terbuka membela seorang wanita. Bagi orang-oran
Read more