"Abang…?"Suara Theo nyaris tertelan deru mesin motor yang baru saja ia matikan. Matanya berpijar, menatap sosok di depannya dengan binar yang sulit diartikan, antara tidak percaya, lega, sekaligus ngeri.Pria di hadapannya hanya melempar senyum tipis. Guratan perak mulai menghiasi pelipisnya, tanda waktu telah berjalan jauh sejak terakhir kali mereka bersisian.Namun, sorot mata pria itu tetap tak berubah, tajam dan tenang secara mematikan. Itu adalah mata seorang pria yang sudah terlalu sering menatap maut hingga maut itu sendiri bosan menunggunya."Bang Sel," bisik Theo lagi, suaranya kini lebih mantap. "Aku kira Abang sudah… mati.""Hampir," potong Selo Ardi dengan nada ringan, seolah sedang membicarakan cuaca. "Tapi sayangnya, dunia belum selesai menggunakan tenaga kita."Theo segera melompat turun dari motornya. Tanpa kata-kata basa-basi, keduanya beradu peluk. Singkat dan keras sebuah pelukan khas pria yang dibesarkan oleh disiplin dan kerasnya dunia yang penuh bahaya, di mana
Terakhir Diperbarui : 2026-01-05 Baca selengkapnya