Lampu-lampu kota meluncur di permukaan kaca jendela, tampak seperti tetesan hujan yang ragu untuk jatuh. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, atmosfer terasa tebal oleh sesuatu yang tak terucap.Naira beberapa kali mengusap perutnya. Gerakan kecil, refleks ibu-ibu yang sedang hamil, seolah ingin memastikan yang berada di dalam sana, baik-baik saja."Kamu kenapa, Sayang?" Suara berat Alex memecah keheningan. Ia menggeser Archie, putra kecil mereka, lebih rapat ke dadanya."Tidak apa-apa," dusta Naira. Suaranya sedikit bergetar. "Cuma... rasanya aneh."Mata Naira beralih ke kursi depan, menatap punggung Theo.Sementara itu, Archie tidak peduli pada kerumitan orang dewasa. Bocah itu menempelkan telapak tangan mungilnya ke kaca, mengoceh riang dengan mata berbinar melihat dunia luar yang berkelap-kelip."Duduk yang tenang, Boy," Alex terkekeh, meski matanya tetap waspada."Dadda... Dadda!" Archie menunjuk ke luar dengan antusias."Iya, itu lampu. Nanti kalau sudah besar, Papa akan t
آخر تحديث : 2025-12-27 اقرأ المزيد