Share

344. Pertemuan

Penulis: Henny Djayadi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 11:32:22

“Lama tak bertemu, Om. Bagaimana kabar Om Peter?”

Suara Regina mengalun tenang, memecah kesunyian ruangan yang mencekam. Tidak ada getar ketakutan di sana, apalagi keraguan. Perempuan itu berdiri dengan dagu terangkat, seolah dialah sang pemilik kuasa di ruangan itu, bukan Peter.

Regina melangkah mendekat. Gaun sederhananya tampak kontras dengan kemewahan vila ini. Wajah cantiknya masih menyisakan sisa riasan yang memudar, namun matanya tetap jernih. Terlalu tenang, hingga nyaris terlihat seperti permukaan air yang membeku, menyembunyikan badai di bawahnya.

Peter menyesap cerutunya perlahan sebelum menjawab, “Aku selalu baik di negara yang tahu cara memperlakukan tamu dengan hormat. Mungkin ini salah satu alasan Alex bisa betah di sini.”

Mendengar nama Alexander Quinn Vancroft disebut, senyum tipis terukir di bibir Regina. Memorinya terlempar ke masa lalu. Masa awal bertemu dengan seorang Alex, Bagaimana mereka berdua berjuang dari nol, membangun mimpi dari reruntuhan. Kenangan itu ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Erna Kirana
lanjutkan regina, supaya peter juga tertular penyakit yg kamu derita
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   349. Rencana

    Alex terdiam. Kali ini, ketenangannya bukan topeng yang ia pasang dengan sengaja. Ada sesuatu yang runtuh pelan di dadanya.“HIV,” ulang Alex lirih.Satu kata itu menggantung di udara, dingin dan mematikan.Seketika, bayangan Naira melintas tanpa permisi. Ia teringat senyum istrinya pagi tadi. Tangannya yang melingkar di lehernya. Perut yang baru mulai menyimpan kehidupan.Belum lagi suara cempreng Archie yang meneriakkan "Dadda!" dan "Dede!" dengan binar mata yang membuat Alex merasa menjadi pria paling dibutuhkan di seluruh dunia.Alex menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang tandus.“Sejak... kapan?” tanyanya akhirnya. Suaranya pecah, sebuah getaran ketakutan yang gagal ia sembunyikan di balik wibawanya.Revan menghela napas panjang, beban di pundaknya tampak semakin nyata.“Waktu di Bali, statusnya masih reaktif. Dokter belum berani memberi vonis final. Tapi dua kali pemeriksaan mendalam setelah itu...”Revan menjeda, menatap Alex dengan tatapan iba yang meny

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   348. Sikap Alex

    Revan benci saat dia harus kembali ke apartemen tempat dia menyembunyikan Regina selama ini. Entah apa tujuan Alex mengajak mereka bertemu di tempat ini.Bagi Revan yang sudah keluar masuk apartemen ini merasa kedatangannya disambut dengan kesunyian yang mencekik. Bukan jenis sunyi yang menenangkan, melainkan kesunyian predator, kosong, dingin, dan penuh ancaman.Revan melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup dengan dentum halus yang menggema di lorong yang hampa.Sepatu pantofelnya berhenti tepat di tengah ruang tamu. Ia mematung. Udara di sana terasa berat dan pengap, namun ada satu aroma yang menusuk indranya hingga ke ulu hati. Aroma white musk dan peony. Bau parfum Regina.Aroma itu masih tertinggal di sana, tipis, mewah, dan menyiksa karena pemiliknya tidak ada di depan mata.Ingatan kebersamaan dengan Regina menyerang Revan, bukan karena cinta atau rindu, tapi khawatir mengingat saat ini Regina memasuki kendang srigala sendiri.Kembali Revan membuka kertas yang ditinggalkan o

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   347. Muslihat Regina

    "Abang…?"Suara Theo nyaris tertelan deru mesin motor yang baru saja ia matikan. Matanya berpijar, menatap sosok di depannya dengan binar yang sulit diartikan, antara tidak percaya, lega, sekaligus ngeri.Pria di hadapannya hanya melempar senyum tipis. Guratan perak mulai menghiasi pelipisnya, tanda waktu telah berjalan jauh sejak terakhir kali mereka bersisian.Namun, sorot mata pria itu tetap tak berubah, tajam dan tenang secara mematikan. Itu adalah mata seorang pria yang sudah terlalu sering menatap maut hingga maut itu sendiri bosan menunggunya."Bang Sel," bisik Theo lagi, suaranya kini lebih mantap. "Aku kira Abang sudah… mati.""Hampir," potong Selo Ardi dengan nada ringan, seolah sedang membicarakan cuaca. "Tapi sayangnya, dunia belum selesai menggunakan tenaga kita."Theo segera melompat turun dari motornya. Tanpa kata-kata basa-basi, keduanya beradu peluk. Singkat dan keras sebuah pelukan khas pria yang dibesarkan oleh disiplin dan kerasnya dunia yang penuh bahaya, di mana

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   346. Nasib Theo

    Naira hanya berdiri mematung, matanya tidak lepas mengikuti setiap gerak-gerik Alex.Pria itu tampak asing. Wajahnya mengeras seperti pahatan batu, otot rahangnya berkedut, terlalu tegang untuk sekadar urusan kantor di hari Minggu."Kamu mau ke mana?" Suara Naira hampir menyerupai bisikan, seolah takut jika ia bicara terlalu keras, kenyataan pahit akan dia temukan di depan matanya.Alex tidak menyahut. Ia menyambar jaket hitamnya dengan gerakan yang terburu-buru yang terlihat mencekam. Seperti seseorang yang sedang berlomba dengan waktu yang tidak berpihak padanya.Di sudut ruangan, Archie masih duduk di atas karpet, menepuk-nepuk mainan kayunya tanpa dosa. Alex menghampiri bocah itu, lalu mengangkatnya dalam satu sentakan. Ia memeluk putranya lama sekali. Terlalu lama untuk ukuran seorang ayah yang hanya akan pergi melakukan pekerjaan rutin."Jaga Mommy," bisik Alex tepat di telinga mungil Archie. Suaranya serak, sarat beban. "Jaga dede bayi juga, ya?"Archie menatap mata ayahnya. Aj

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   345. Langkah Revan dan Theo

    Revan mengepalkan kertas itu hingga kusut dalam genggamannya, seolah ingin meremas keputusan gila Regina.Namun, hanya butuh satu detik bagi pertahanannya untuk runtuh. Dengan gerakan tergesa, hampir putus asa, Revan membuka kembali gumpalan kertas itu. Telapak tangannya meratakan tiap kerutan di sana, matanya menyapu setiap huruf, membedah setiap goresan tinta seolah ada pesan tersembunyi yang tertinggal di sela kata.Kosong. Tak ada pesan rahasia. Regina tetaplah Regina, wanita dengan keras kepala yang jika dia sudah membuat keputusan tak ada yang bisa mencegahnya.Revan merogoh ponselnya, matanya menyala dengan tekad yang gelap."Kau pikir aku akan membiarkanmu mati sendirian, Re?" bisik Revan pada kesunyian apartemen yang menyesakkan. Matanya berkilat dengan tekad yang gelap. "Jangan harap."Selama ini, Revan hanyalah bayangan. Ia adalah tameng yang dipasang Alex untuk menghalau mantan kekasih yang tak lagi diinginkan.Namun, kedekatan yang dipaksakan itu menumbuhkan sesuatu yang

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   344. Pertemuan

    “Lama tak bertemu, Om. Bagaimana kabar Om Peter?”Suara Regina mengalun tenang, memecah kesunyian ruangan yang mencekam. Tidak ada getar ketakutan di sana, apalagi keraguan. Perempuan itu berdiri dengan dagu terangkat, seolah dialah sang pemilik kuasa di ruangan itu, bukan Peter.Regina melangkah mendekat. Gaun sederhananya tampak kontras dengan kemewahan vila ini. Wajah cantiknya masih menyisakan sisa riasan yang memudar, namun matanya tetap jernih. Terlalu tenang, hingga nyaris terlihat seperti permukaan air yang membeku, menyembunyikan badai di bawahnya.Peter menyesap cerutunya perlahan sebelum menjawab, “Aku selalu baik di negara yang tahu cara memperlakukan tamu dengan hormat. Mungkin ini salah satu alasan Alex bisa betah di sini.”Mendengar nama Alexander Quinn Vancroft disebut, senyum tipis terukir di bibir Regina. Memorinya terlempar ke masa lalu. Masa awal bertemu dengan seorang Alex, Bagaimana mereka berdua berjuang dari nol, membangun mimpi dari reruntuhan. Kenangan itu ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status