Penjual mie itu terlonjak. Jantungnya nyaris melompat saat tangan Theo, orang kepercayaan Alex yang dingin, menyelipkan segepok uang lembaran merah ke dalam saku celemek lusuhnya yang ternoda minyak.“Pak. Tutup. Sekarang,” titah Theo. Suaranya datar dan singkat, tapi nadanya tidak membuka ruang tawar.Pria tua itu menelan ludah dengan susah payah. Matanya menyapu sekitar. Area pinggir jalan yang tadi terasa tenang, tiba-tiba berubah mencekam.Di bawah temaram lampu jalan, muncul pria-pria bertubuh kekar. Tatapan mereka tajam, seperti anjing penjaga yang menunggu satu peluit.“Cepat,” ulang Theo, kali ini lebih rendah, lebih mendesak.Suara gerobak berderit memecah keheningan malam yang ganjil. Tungku arang yang masih membara dipadamkan tergesa dengan siraman air, menimbulkan desis uap yang singkat.Tanpa berani menoleh lagi, pria tua itu mendorong gerobaknya menjauh. Bahunya gemetar, langkahnya limbung. Orang seusianya sudah cukup kenyang dengan asam garam kehidupan untuk tahu kapan
آخر تحديث : 2025-12-31 اقرأ المزيد