Mata Eleanor menyorot tajam mendengar suara Elina dari seberang panggilan. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk keras.“Kamu hanya berani mengejekku. Jika kamu berani, datang ke sini!” geram Eleanor, “aku tahu kalau semua ini ulahmu, kan?” Suara Eleanor geram tertahan.Eleanor semakin geram mendengar tawa kecil dari seberang panggilan. Dia tahu kalau Elina sedang mengejek dirinya.“Mengejekmu? Bahkan tanpa kuejek, kamu sudah sangat buruk, Eleanor.”“Elina! Sialan kamu! Apa maumu, hah?!” teriak Eleanor penuh emosi.“Apa mauku, tentu saja membuat kalian merasakan apa yang pernah kurasakan. Keputusasaan dan penindasan. Kalian harus merasakan penderitaan yang aku dan ibuku alami.”Eleanor semakin geram dan emosi, saat dia siap kembali mengumpat, terdengar Elina kembali berkata, “Aku sangat ingin sekali bertemu denganmu, Eleanor.”Mendengar ucapan Elina, rahang Eleanor semakin mengeras. Dia mendengar Elina mengucapkan nama salah satu taman di kota itu, bibirnya menyeringai, lalu dia ber
Last Updated : 2025-11-28 Read more