"Jangan menangis lagi. Saya minta maaf," ucap Nolan, suara yang tadinya penuh dengan emosi kini semakin melembut, ia merasa sangat bersalah melihat kondisi Airin yang seperti ini. Jemarinya bergerak gemetar, mengusap lelehan air mata di pipi Airin dengan sangat hati-hati. 'Dasar Bodoh,' batinnya, Nolan benar-benar mengutuk dirinya sendiri atas tindakan bar-bar yang baru saja ia lakukan hingga membuat gadis polos ini ketakutan. Namun, Airin langsung memalingkan wajah, menghindari sentuhan lembut dari Nolan yang mendadak terasa menyakitkan baginya. Nolan menghela napas berat dan mengangguk paham. Ia sadar, jika kehadirannya saat ini justru membuat Airin tidak nyaman, dan semua itu murni karena kebodohannya yang terlalu dikuasai rasa cemburu. "Saya akui saya salah, tapi... saya benar-benar tidak ingin kehilangan kamu, Airin!" Mendengar pengakuan egois itu, rasanya Airin ingin sekali berteriak dan mencaci-maki CEO di hadapannya ini. Tapi, posisinya yang terlanjur lemah membuatnya
Magbasa pa