เข้าสู่ระบบ"Ma-makasih, ya!" cicit Airin pelan, begitu Galang membawanya pergi jauh dari hadapan Bella dan kerumunan murid. Langkah kaki mereka baru berhenti setelah sampai di area halaman sekolah yang sudah sepi. "Untuk?" tanya Galang dingin, memasukkan satu tangannya ke saku celana seolah tindakan heroiknya tadi adalah hal sepele. "Makasih karena kamu sudah membantuku tadi!" sahut Airin tulus, menatap Galang dengan sepasang mata bulatnya yang masih agak basah. Kata-kata itu sukses membuat langkah kaki Galang terhenti total. Cowok itu terdiam sejenak, menatap seragam Airin yang masih kotor akibat tumpahan es cokelat. "Jangan GR lo. Gue cuma nggak tega aja lihat cewek Om gue jadi bahan bully," ketus Galang, buru-buru mencari alasan. Entah kenapa, Galang yang biasanya terkenal super cuek, dingin, dan paling malas mengurusi drama perempuan, mendadak jadi sensi begitu melihat Airin diinjak-injak oleh Bella tadi. Ada rasa tidak terima yang bergejolak di dadanya, padahal mereka baru pe
"Semoga tidak ada yang melihatku tadi," gumam Airin penuh harap, bibirnya berkomat-kamit seperti merapalkan mantra. Sambil memegangi tali ranselnya erat-erat, Airin terus menunduk, berjalan cepat membelah koridor sekolah yang mulai ramai. Airin hanya ingin segera sampai ke kelas, duduk tenang, dan melupakan kegilaan majikan ibunya itu. Namun, baru setengah jalan menyusuri koridor, langkah Airin tiba-tiba terkunci. Sreeek! Sebuah lengan kekar tiba-tiba menjulur, menghadang jalan Airin dengan santai bertumpu pada dinding koridor. Airin refleks mengerem langkahnya, hampir saja menabrak dada bidang cowok yang kini sudah berdiri tegak di hadapannya dengan ekspresi begitu tenang. "Astaga?!" pekik Airin lirih, melangkah mundur satu langkah karena kaget. Airin mendongak, dahinya berkerut tipis ketika berhadapan langsung dengan wajah tampan Galang. Siapa cowok ini? dan kenapa menghentikanku?! batin Airin melihat Galang yang menatapnya dengan pandangan menyelidik dan sulit d
"I-ini semua isi perjanjiannya, tuan?!" Airin benar-benar tercengang setelah membaca isi kertas di tangannya. Meskipun konyol, isinya benar-benar menjebak! Sedangkan untuk dirinya? Zonk! Nolan maju selangkah, memangkas jarak hingga Airin bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang seakan tidak pernah luntur. Ia menunduk, berbisik tepat di telinga Airin dengan nada rendah, "Intinya, cuma boleh ada satu laki-laki di hidup kamu, Airin. Dan itu cuma saya! Paham?" "Hah?!" Airin melongo, matanya yang bulat mengerjap polos. "Kenapa? Kamu keberatan?" Nolan menaikkan sebelah alisnya, menatap bibir Airin yang sedikit terbuka dengan pandangan lapar. Tok! Tok! Tok! "Airin? Kamu sudah bangun, Nak?" suara bik Siti terdengar samar mengetuk pintu kamar Airin. Matilah aku! Airin panik setengah mati. Kalau ibunya masuk dan melihatnya di kamar Nolan sepagi ini dengan baju kusut, tamatlah riwayatnya! "Baik, saya setuju, pak." bisik Airin histeris sambil menyodorkan kembali kertas itu.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya. Malam itu, dengan terpaksa Airin tidur di kamar Nolan, majikan ibunya. Ini pun setelah mereka membuat kesepakatan yang terasa sangat absurd. Nolan tidur di kasur king size miliknya yang luas, sementara Airin tidur di sofa kulit yang berada di sudut ruangan itu. Meskipun sofa itu jauh lebih nyaman dibanding dipan kayu reot di kamar kecilnya di desa, tetap saja Airin kesulitan untuk memejamkan mata dengan tenang "Kebodohan apa lagi ini?!" Gumam Airin menyesal. Satu ruangan dengan Nolan, apalagi setelah kejadian-kejadian sebelumnya, membuatnya merasa sesak. Ia takut sesuatu akan terjadi jika dirinya lengah walau sedetik saja. Ia berulang kali melirik Nolan, yang sudah memejamkan mata di bawah selimut tebalnya, memastikan pria itu benar-benar terlelap. Nolan, yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur dan merasakan kegelisahan Airin dari jauh, tersenyum kecil di balik kegelapan. Kewaspadaan Airin saat ini, yang terlihat begitu jelas dari setiap gerak-
Airin benar-benar terkejut dengan serangan tiba-tiba Nolan. Bahkan, ia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tubuhnya membeku sesaat sebelum akhirnya memberontak panik. Gadis itu hanya bisa memukul-mukul dada bidang Nolan dengan kedua tangannya, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dekapan erat pria yang usianya jauh lebih tua darinya itu. Namun, apa daya, tenaga Nolan jauh lebih kuat darinya.Airin yang ketakutan dengan sengaja mengiggit bibir Nolan hingga berdarah membuatnya sedikit menyesal. Takut jika majikan ibunya itu marah.Nolan menyeringai tipis seraya mengelap sisa darah di bibirnya, lalu kembali mendekat bersiap untuk melumat bibir merekah yang membuatnya candu itu."Tuan, tolong lepaskan saya!" gumam Airin, Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata karena ketakutan dan rasa tidak berdaya.Bukannya melepaskan dekapannya, Nolan justru semakin erat memeluk Airin. Kemudian, dengan gerakan yang mengejutkan, tubuh Airin terangkat dengan mudah hanya dengan sebelah
Brak "proposal macam apa ini?" ucap Nolan seraya melempar map yang berisi sebuah proposal untuk meeting sore nanti ke lantai. "ba-baik, pak. saya akan menyusun ulang lagi," ucap seorang staff perempuan yang berdiri ketakutan menghadap Nolan. Nolan tidak bersuara apa pun. Dengan gagah, pria itu hanya mengangkat tangannya menyuruh staff itu untuk segera pergi. "permisi, pak," ucapnya tergesa seraya memunguti lembaran proposal yang tercecer di lantai lalu pergi. Sepertinya, penolakan dari Airin pagi tadi begitu mempengaruhi mood Nolan. Hampir semua karyawannya mendapat semprot dari Nolan. Bahkan, Kevin, asistennya saja ikut ketar ketir melihat emosi CEO muda itu yang meledak-ledak. "Segera siapkan semua dokumen dan proposal yang di butuhkan untuk meeting nanti!" perintah Nolan dengan suara berat dan ekspresi dinginnya. "Saya tunggu di bawah dalam 10 menit!" Kevin menelan salivanya susah payah, "Baik, pak!" "proposal apa yang bisa selesai dalam 10 menit?!" gumam Kevin sedikit k







