Share

BAB 4 Bermalam Bersama

Penulis: Scorpio_Girl
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 12:18:30

Tidak ada pilihan lain, akhirnya. Malam itu, dengan terpaksa Airin tidur di kamar Nolan, majikan ibunya. Ini pun setelah mereka membuat kesepakatan yang terasa sangat absurd. Nolan tidur di kasur king size miliknya yang luas, sementara Airin tidur di sofa kulit yang berada di sudut ruangan itu. Meskipun sofa itu jauh lebih nyaman dibanding dipan kayu reot di kamar kecilnya di desa, tetap saja Airin kesulitan untuk memejamkan mata dengan tenang

"Kebodohan apa lagi ini?!" Gumam Airin menyesal.

Satu ruangan dengan Nolan, apalagi setelah kejadian-kejadian sebelumnya, membuatnya merasa sesak. Ia takut sesuatu akan terjadi jika dirinya lengah walau sedetik saja. Ia berulang kali melirik Nolan, yang sudah memejamkan mata di bawah selimut tebalnya, memastikan pria itu benar-benar terlelap.

Nolan, yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur dan merasakan kegelisahan Airin dari jauh, tersenyum kecil di balik kegelapan. Kewaspadaan Airin saat ini, yang terlihat begitu jelas dari setiap gerak-geriknya yang kaku, justru tampak sangat menggemaskan di mata Nolan. "Apalagi yang dia cemaskan?" lirihnya dalam hati, kemudian ia benar-benar menutup matanya, bukan untuk tidur, melainkan agar Airin tidak terlalu cemas melihatnya terjaga. Ia berharap gadis itu juga akan segera tidur, mengingat besok pagi Airin harus bersekolah.

***

Cahaya matahari yang menyelinap masuk dari celah gorden tebal pagi itu, menembus tipisnya kelopak mata Airin, membuatnya mengerjap. Gadis itu perlahan terbangun dari tidurnya yang lelap. Sekejap, ia melupakan semua peristiwa aneh yang terjadi semalam.

Dalam mata yang masih terpejam dan pikiran yang belum sepenuhnya sadar, Airin mengerutkan keningnya ketika tangannya menyentuh sesuatu yang lembut namun keras. Sensasi aneh itu membuatnya bertanya-tanya, "Apa ini?"

Airin langsung terbangun dengan segala keterkejutannya. Ia mendapati apa yang disentuhnya tadi adalah dada bidang dan otot perut Nolan yang tersusun rapi, dengan segera Airin menarik tangannya, "Semalaman aku memeluknya seperti ini?!" Lirihnya tidak percaya.

Beberapa detik Airin sempat terdiam, terpesona oleh pemandangan di hadapannya. Pria dewasa itu, yang tampak begitu matang, memancarkan aura yang kuat bahkan dalam tidurnya. Alisnya yang tebal dan bulu mata yang panjang, sangat kontras dengan hidungnya yang mancung sempurna, menciptakan fitur wajah yang bak dewa Yunani. Nolan terlihat damai dalam tidurnya, dengan bibir tipisnya sedikit terbuka, seolah-olah semua ketegasan dan karisma yang ia tunjukkan saat terjaga, lenyap begitu saja saat ia terlelap.

Airin mengulurkan tangannya perlahan ke arah hidung Nolan, terdorong oleh rasa penasaran yang aneh.

"Apa sudah puas, mengagumi wajah saya?!" dalam mata yang masih terpejam, suara berat khas bangun tidur itu mengejutkan Airin.

"Aaaaa!" teriak Airin tersadar. Seketika, rasa panik dan malu melandanya. Suara melengking gadis itu menggema dan memenuhi seisi ruangan yang luas itu.

"Apa kamu ingin seisi rumah mengetahui keberadaan kita?" ucap Nolan.

Dengan panik Airin segera bangkit dari kasur itu, dan menjauh dari Nolan yang tiba-tiba ingin mendekapnya.

"Ke-kenapa tuan bisa ada di sini?!" panik Airin, menatap Nolan sekilas yang masih saja santai berbaring di atas kasur, seperti tidak terjadi apa-apa.

Nolan menaikkan sebelah alisnya, mentap Airin dengan tatapan heranan. "Memangnya, saya harus berada di mana? Bukannya ini memang kamar saya?!" ucapnya, seolah pertanyaan Airin adalah hal yang paling aneh.

"Ma-maksud saya-" Airin memilih untuk menghela nafas dan mengurugkan niatnya untuk mempertanyakan hal yang membuatnya penasaran. Tentang bagaimana dirinya yang semalam tidur di sofa bisa berpindah disini? di kasur tuannya.

"Saya minta maaf, tuan. Saya permisi!" pamit Airin enggan untuk memperpanjang masalah. Yang ada di otaknya saat ini hanya bagaimana cara agar dia bisa segera keluar dari kamar ini.

"Kenapa terburu-buru? Apa kamu takut dengan saya?" tanya Nolan, menarik tangan gadis itu dan menghentikan langkahnya.

'Takut? tentu saja saya takut denganmu, tuan.' Batinnya seraya melirik sekilas kearah Nolan dengan tatapan aneh.

"Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka memaksa. tapi, kejadian semalam saya benar-benar minta maaf. saya khilaf!" ucapnya yang terdengar begitu tulus.

'Khilaf? Khilaf apa yang sampai menahan saya disini semalaman, tuan?' batinnya membantah, tapi Airin tidak memiliki keberanian untuk mengatakan itu semua. Ia hanya terdiam dan tertunduk lemah.

"Saya janji, saya tidak akan memaksa kamu lagi. Tapi tolong, kamu jawab lamaran saya semalam! Apa kamu mau menjadi istri saya?" jelas Nolan, penuh harap. Walaupun ia tahu, melihat dari raut wajah Airin yang masih was-was kepadanya, hanya ada kemungkinan kecil gadis kecil itu mau menerimanya.

Airin terdiam, wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan dan tidak percaya. Kalimat lamaran yang semalam ia anggap sebagai kekeliruan atau rancauan seorang pria yang tengah berada di bawah pengaruh minuman beralkohol, ternyata kembali dipertanyakan oleh Nolan dengan keseriusan yang mutlak. Semua harapannya bahwa itu hanya kesalahpahaman, musnah seketika.

"Sa-saya minta maaf, tuan. Saya permisi!" sahut Airin mencoba melepaskan genggaman tangan Nolan, enggan menjawab pertanyaan itu.

Namun, Nolan enggan melepaskan genggaman itu. "Sebenarnya, apa yang membuat kamu ragu dengan saya, Airin?!"

Dengan gerakan lembut, Nolan merapikan rambut Airin yang berantakan, menyelipkan sebagian helainya ke belakang telinga gadis itu. Aroma sabun dan sampo Airin yang segar tercium olehnya, menenangkan indranya yang masih sedikit pening karena sisa alkohol. Tangannya kemudian menangkup lembut wajah Airin, memaksanya untuk menatap ke arahnya.

"Tu-tuan, sa-saya minta maaf. Saya benar-benar merasa jika saya tidak pantas bersanding dengan Anda," Perlahan, Airin melepaskan tangan Nolan yang sedari tadi menangkup wajahnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, memikirkan apa yang harus ia katakan kepada majikan ibunya ini. Situasi ini benar-benar di luar kendalinya.

Nolan tersenyum masam. Di usianya yang tidak lagi muda, dalam beberapa hari ia sudah mendapat penolakan dari gadis yang ia inginkan. Sungguh ironis. Nolan Mahendra, pria yang selalu dikelilingi dan menjadi perebutan banyak wanita, justru ditolak mentah-mentah oleh gadis yang benar-benar ia inginkan.

"Apa tidak ada alasan lain, Airin?" tanya Nolan, suaranya sedikit menuntut.

Airin menggeleng, "Maaf, tuan."

Nolan menghela nafas, "Baiklah, saya tidak akan memaksa kamu. tapi izinkan saya untuk mengejarmu!"

'katanya tidak ingin memaksa, tapi ini? Bukannya sama saja?' batin Airin.

"Tuan, niat saya datang ke kota hanya untuk bersekolah. Saya benar-benar tidak memiliki niat lain, apalagi memanfaatkan Anda, tuan." Ia merasa harus menjelaskan kejujurannya agar Nolan mengerti.

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu kamarnya terdengar, bersamaan dengan suara Bik Siti yang memanggil-manggilnya.

TOK ... TOK ... TOK.

"Tuan, apa anda di dalam?"

Senyum miring seketika terukir samar menghiasi wajah Nolan. Sebuah ide, yang mungkin sedikit licik, terlintas di kepalanya. Ia menoleh ke arah Airin yang kini mulai panik, matanya membelalak ketakutan mendengar suara ibunya.

Nolan semakin mendekat ke arah Airin, sedikit membungkuk ke arah gadis itu, mensejajarkan pandangannya. "Saya bisa menyelamatkan kamu, Airin," bisiknya, suaranya rendah dan penuh makna. Kalimat itu membuat kening Airin berkerut gelisah. Suara ibunya yang terus mengetuk-ngetuk pintu kamar, seolah mendesak mereka. "Tapi ada syaratnya!"

"Sya-syarat?!" lirih Airin seraya menelan ludahnya dengan kasar, menatap sekilas mata Nolan yang penuh arti, yang kini memancarkan sesuatu yang sulit dibaca.

Nolan mengangguk, sorot matanya tajam. "Saya akan membantu kamu agar ibu kamu tidak tahu apa yang terjadi di sini. Tapi, kamu tidak boleh menolak saya. saya ingin mengejar kamu!"

Tawaran macam apa ini? Bukankan ini termasuk pemaksaan? Mata Airin membulat sempurna. Namun, ia juga tidak memiliki pilihan lain... bagaimana nasibnya nanti jika ibunya mengetahui dirinya berada di kamar Nolan pagi-pagi begini? Bagaimana pandangan ibunya? Bagaimana dengan nama baik keluarganya? Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya Airin mengangguk ragu.

"Sa-saya bersedia, tapi... bolehkan anda berjanji jika semua ini tidak akan menganggu sekolah saya?!" tanya Airin, suaranya bergetar. Setidaknya, ia berharap bisa mempertahankan mimpinya untuk bersekolah.

"Saya berjanji," sahut Nolan, segera menyetujui permintaan Airin dengan cepat. Seulas senyum mengembang menghiasi wajah Nolan yang selalu tampak dingin itu. "Kamu tenang saja, nanti semuanya akan diatur dalam surat perjanjian!"

"Surat perjanjian?!" Airin mengulang kata-kata Nolan dengan nada tidak percaya. Segala sesuatu tentang pria ini terasa tidak masuk akal.

*

*

*

*

BERSAMBUNG~

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 39 End~

    ​"Apa kamu serius, Nduk?" tanya Bik Siti dengan raut wajah cemasan begitu mendengar putrinya tiba-tiba saja pamit ingin bersekolah ke luar negeri. ​Bukannya ia tidak bangga atau tidak senang darah dagingnya berhasil mendapatkan beasiswa di universitas bergengsi, tetapi tempat yang dituju sangat jauh, sedangkan Airin masih begitu belia. Apalagi sebagai rakyat kecil, mereka sama sekali tidak memiliki saudara, kerabat, ataupun kenalan yang bisa dimintai bantuan di negara asing tersebut. ​"Bik... Bik Siti tenang saja. Airin di sana nggak bakal sendirian kok. Saya juga kebetulan mau melanjutkan kuliah di negara yang sama, jadi sekalian saya bisa menjaga dan memantau Airin di sana setiap hari!" ucap Galang ikut menimpali, berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu agar tidak khawatir. ​Airin menatap wajah lelah sang ibu, lalu menggenggam kedua tangan kasar Bik Siti dengan lembut. "Ibuk tenang saja, ya. Airin berjanji di sana pasti bisa jaga diri baik-baik. Ini semua Airin lakukan demi

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 38 Sedikit kepedulian Airin untuk Nolan

    "Hati-hati, Rin!" ucap Galang khawatir setengah mati melihat Airin berjalan tergesa-gesa menaiki anak tangga tanpa memedulikan kondisi tubuhnya yang sebenarnya belum pulih sepenuhnya. ​Meskipun lo masih sangat menyukai pria lain, gue tetap dengan senang hati bersedia nemenin lo, Rin. batin Galang pedih, menatap nanar punggung Airin yang kian menjauh meninggalkannya sendirian di anak tangga terbawah.galang terkekeh getir, "mungkin sebentar lagi gue dapat penghargaan pria terbodoh sedunia." ​Galang tahu betul seberapa besar Airin mengkhawatirkan pamannya saat ini. Hatinya tentu saja sakit melihat gadis yang dicintainya begitu mencemaskan laki-laki lain. Namun, ada hal yang jauh lebih menyakitkan bagi Galang, yaitu membiarkan Airin seorang diri menghadapi situasi pelik dan kenyataan pahit ini. ​"Walaupun hanya sebagai cadangan... sampai kapan pun gue rela, Rin!" gumam Galang lirih penuh ketulusan, sebelum akhirnya melangkahkan kaki lebar-lebar menyusul Airin ke lantai dua. ​Sementa

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 37 Terpuruknya Nolan

    Dua hari ini, dunia Nolan seolah benar-benar runtuh . Pria matang yang biasanya dikenal gila kerja itu sama sekali tidak menginjakkan kakinya di kantor. Banyak sekali agenda penting dan rapat krusial yang tertunda, hingga membuat asisten pribadinya kelabakan setengah mati menghadapi para investor. ​"Pak, ini berkas-berkas penting perusahaan yang harus Anda tanda tangani segera!" ucap Kevin dengan nada suara yang sangat berhati-hati. Ia terpaksa membawa tumpukan dokumen itu langsung ke kediaman Mahendra karena situasi kantor sudah sangat mendesak. ​Di dalam kamar utama yang temaram, Nolan tampak mengurung diri. CEO tampan yang biasanya selalu tampil necis, rapi, dan berwibawa itu kini terduduk lemas di lantai kamar, menyandarkan punggungnya pada tepi ranjang miliknya. Penampilannya benar-benar lusuh dan berantakan. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kusut, dan di sekelilingnya berserakan belasan botol alkohol kosong. ​"Taruh di sana!" sahut Nolan parau dengan sisa-sisa kesadarannya ya

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 36 Kehamilan

    Airin mengerjapkan matanya pelan, mencoba menghalau rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya. Netranya perlahan terbuka sempurna. ​Di mana ini? batin Airin kebingungan saat menatap langit-langit kamar berwarna putih pucat yang terasa sangat asing. Bau khas antiseptik yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya, membuat Airin segera mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. ​Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sosok Galang. Cowok itu tengah duduk di kursi jaga samping ranjang, fokus menatap selembar kertas di tangannya dengan raut wajah yang teramat serius. ​"Galang...?" panggil Airin dengan suara yang teramat lemah. ​"Lo udah bangun, Rin?" sahut Galang cepat. Ia tersentak, lalu dengan gerakan kilat segera menyembunyikan selembar kertas yang tadi dibacanya ke dalam saku jaket. ​Airin masih tampak kebingungan, mencoba mengingat rentetan kejadian sebelum kesadarannya hilang. "Kok... aku bisa ada di sini?" ​"Tadi lo pingsan di pinggir jalan, Rin. Gue

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 35 Keputusan untuk mengakhiri

    Semenjak kehadiran Shofia kembali di rumah itu, Airin dan Nolan sudah jarang lagi terlihat dekat seperti dulu. Bahkan, Airin selalu terlihat sengaja menghindari Nolan. Begitupun dengan Nolan yang memang akhir-akhir ini jarang berada di rumah. Pria itu benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya di kantor yang sedang dalam keadaan kritis. Ada bawahan Nolan yang mencuri berkas rahasia perusahaannya dan menjualnya kepada pihak musuh, membuatnya mau tak mau harus menguras waktu dan energinya untuk menyelamtkan perusahaannya ​Sore itu, Airin berjalan gundah di trotoar jalanan yang cukup sepi. Pikirannya melayang, membuatnya berjalan tanpa arah dengan raut wajah yang teramat murung. ​Tin! ​"Masuk!" ucap Nolan tegas sembari menurunkan sedikit kaca mobilnya. ​Airin yang sejak tadi tidak fokus dan terlihat murung, seketika tersentak mendengar suara bariton itu. Ia menoleh, menatap ke arah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan, tepat di samping tempatnya berdiri saat ini

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 34 kedatangan mantan istri Nolan

    ​"Apa sih, Lang?" ​Galang tiba-tiba saja merentangkan tangannya di ambang pintu ruang tengah, menghadang total jalur yang akan dilewati Airin. Gerakan spontan itu sukses membuat langkah Airin terhenti mendadak karena terkejut. ​"Berangkat sekolah sama gue!" ucap Galang dengan nada memerintah, sedikit memaksa. ​Airin mendongak, menatap Galang yang sudah berpenampilan rapi dengan seragam putih abu-abu melekat pas di tubuh atletisnya. "Nggak!" sahut Airin singkat. Ia meraih pergelangan tangan Galang, menariknya turun dengan paksa agar tidak lagi menghalangi jalannya, lalu berjalan cepat meninggalkan cowok itu. ​"Emang gue ada ngizinin lo buat nolak?" sahut Galang santai sekaligus songong. Dengan langkah lebar, ia dengan mudah mengejar dan menyamai langkah kaki Airin. ​Airin akhirnya menghentikan langkah kaki tepat di teras depan kediaman mewah Mahendra. Di sana, sebuah motor sport hitam milik Galang sudah terparkir gagah, siap untuk dipacu. ​Dengan tampang berandalan andalannya, Ga

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 5 Perjanjian Rahasia

    "I-ini semua isi perjanjiannya, tuan?!" Airin benar-benar tercengang setelah membaca isi kertas di tangannya. Meskipun konyol, isinya benar-benar menjebak! Sedangkan untuk dirinya? Zonk! ​Nolan maju selangkah, memangkas jarak hingga Airin bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang seakan tidak pe

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 3 Terjebak Diantara Dua Pilihan

    Airin benar-benar terkejut dengan serangan tiba-tiba Nolan. Bahkan, ia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tubuhnya membeku sesaat sebelum akhirnya memberontak panik. Gadis itu hanya bisa memukul-mukul dada bidang Nolan dengan kedua tangannya, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dek

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 2 Lamaran Tak Terduga

    Brak "proposal macam apa ini?" ucap Nolan seraya melempar map yang berisi sebuah proposal untuk meeting sore nanti ke lantai. "ba-baik, pak. saya akan menyusun ulang lagi," ucap seorang staff perempuan yang berdiri ketakutan menghadap Nolan. Nolan tidak bersuara apa pun. Dengan gagah, pria itu

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 1 Pertemuan Pertama

    Dia Airin, gadis SMA polos yang mendadak harus beradaptasi di rumah majikan ibunya, demi menggantikan pekerjaan ibunya yang tengah sakit."Huhh," desis Airin lirih, merasa lega selesai berbincang dengan Nolan. Pagi ini, Sudah beberapa kali Airin menghela nafas. Bahkan, jantungnya pun ikut terus be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status