Home / Romansa / Terjerat Pesona Duda Bar-bar / BAB 2 Lamaran Tak Terduga

Share

BAB 2 Lamaran Tak Terduga

Author: Scorpio_Girl
last update publish date: 2025-08-13 21:09:24

Brak

"proposal macam apa ini?" ucap Nolan seraya melempar map yang berisi sebuah proposal untuk meeting sore nanti ke lantai.

"ba-baik, pak. saya akan menyusun ulang lagi," ucap seorang staff perempuan yang berdiri ketakutan menghadap Nolan.

Nolan tidak bersuara apa pun. Dengan gagah, pria itu hanya mengangkat tangannya menyuruh staff itu untuk segera pergi.

"permisi, pak," ucapnya tergesa seraya memunguti lembaran proposal yang tercecer di lantai lalu pergi.

Sepertinya, penolakan dari Airin pagi tadi begitu mempengaruhi mood Nolan. Hampir semua karyawannya mendapat semprot dari Nolan. Bahkan, Kevin, asistennya saja ikut ketar ketir melihat emosi CEO muda itu yang meledak-ledak.

"Segera siapkan semua dokumen dan proposal yang di butuhkan untuk meeting nanti!" perintah Nolan dengan suara berat dan ekspresi dinginnya. "Saya tunggu di bawah dalam 10 menit!"

Kevin menelan salivanya susah payah, "Baik, pak!"

"proposal apa yang bisa selesai dalam 10 menit?!" gumam Kevin sedikit keheranan, seraya menatap pasrah punggung Nolan yang semakin menjauh dan menghilang dari ruang kerjanya.

***

Brukk.

"Kalau jalan matanya di pakai!" maki Bella, gadis manja yang menjadi primadona di sekolah.

"Maaf-maaf!" spontan Airin, merasa bersalah.

Belum sempat Bella membuat perhitungan dengan Airin, suasana di sekitar tiba-tiba menjadi riuh melihat kedatangan famous sekolah mereka. Galang Alaska Mahendra.

"Awas saja, ya, kamu." ucap Bella. menunjuk kearah Airin dengan penuh dendam.

Sepertinya, kedatangan Galang sangat membantunya untuk keluar dari masalah di hari pertamanya pindah ke sekolah ini. Tanpa banyak berfikir, dan mengabaikan kehebohan yang ada. Airin memutuskan untuk segera bergegas menuju kelas.

Airin yang baru pertama masuk, berputar-putar mengelilingi sekolah yang cukup luas itu hanya untuk mengetahui dimana ruang kelasnya.

"Akhirnya ketemu juga," lirihnya lega.

Hari pertamanya menjadi siswi di sekolah elit itu berjalan cukup mulus, meskipun ia harus berurusan dengan gadis galak dan tidak memiliki teman, namun, ia sangat senang bisa masuk ke sekolah bergengsi yang bahkan dulu tidak pernah ia bayangkan bisa menjadi salah satu siswi disana.

"Huhhhh," desis Airin, setelah berjalan beberapa kilo untuk sampai di rumah ,majikannya. untung saja jarak antara rumah dengan sekolah tidak begitu jauh.

Lagi- lagi, Airin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, teringat kalimat yang tadi pagi di ucapkan oleh Nolan.

"Bertanggung jawab? Apa maksud tuan tadi?" gumamnya lirih, mengulang pertanyaan yang sama seperti saat di dalam mobil tadi siang. Namun, kali ini, kebingungan itu bercampur dengan rasa cemas dan ketakutan yang semakin besar.

"Airin, kamu sudah pulang, nak?"

Airin sedikit tersentak melihat ibunya, bik siti sudah berdiri di hadapannya.

"ibu? ibu sudah pulang?" tanya Airin bahagia melihat ibunya yang beberapa hari cuti sudah sehat dan dapat kembali bekerja.

"Sudah, nak. Bagaimana di sekolahnya tadi? kamu senang?" tanya bik siti antusias.

"Senang, bu," ucap Airin dengan seulas senyuman di wajahnya yang lelah.

Bik siti mengerutkan kening, "Apa ada yang menganggumu di sekolah?" wajah antusias tadi, kini berubah menjadi cemas.

"Enggak ada, bu," spontan Airin yang tidak ingin membuat ibunya cemas.

"Benar begitu?"

"Tentu saja," sahutnya mantap.

"ya sudah kalau begitu, kamu segera bersih-bersih," ucap Bik siti melihat putrinya yang masih mengenakan seragam sekolah. " ibu mau melanjutkan pekerjaan ibu!"

"baik, bu. Jangan terlalu capek! setelah ini, Airin akan segera turun dan membantu ibu!" teriak Airin, entah wanita paruh baya itu masih mendengar suaranya atau tidak.

**

"Ahhh, akhirnya semuanya sudah selesai," gumam Airin, seraya meregangkan otot-ototnya setelah hampir dua jam ia mengepel lantai.

Airin memutuskan untuk beristirahat di bangku taman samping kediaman Mahendra. Di sela kesibukannya, lagi-lagi pikirannya kembali dipenuhi oleh sosok Nolan. Majikan ibunya yang telah merenggut ciuman pertamanya, dua kali dalam sehari. Kejadian yang membuatnya malu, bingung, dan bertanya-tanya tentang maksud sebenarnya dari pria itu.

Airin duduk termenung sendiri, hawa dingin terasa menusuk kulitnya melalui gaun tidur tipis yang ia kenakan. Suasana malam itu sangat hening, hanya desahan lembut angin malam yang membawa aroma bunga yang samar dan kerlip bintang-bintang jauh di langit yang menjadi saksi bisu lamunannya.

"Shhhh, dingin sekali," gumam Airin seraya menggosok-gosok kedua lengannya berusaha menghangatkan diri. Namun, pikiran tentang Nolan jauh lebih dingin dan membuatnya menggigil dari dalam.

Airin menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menghempaskan pikiran-pikiran aneh dan mengganggu yang sedari tadi berputar-putar di benaknya seperti kaset rusak. "Sudahlah, mungkin semua tadi hanya kesalahpahaman. Tuan Nolan pasti hanya merasa tidak enak karena tidak sengaja menciumku," bisiknya pada diri sendiri, berusaha mencari alasan logis untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

Namun, baru saja ia beranjak dari kursi taman yang dingin itu, hendak kembali ke dalam rumah untuk menghindari gigitan angin malam, langkahnya kembali terhenti. Suara deru mobil yang familiar terdengar dari arah pelataran rumah. Jantung Airin langsung berdebar kencang.

"Tu-tuan Nolan?!" gumamnya panik, matanya membulat. Seketika, gadis itu segera melangkahkan kakinya tergesa-gesa kembali menuju kamarnya di lantai atas. Jangan sampai berpapasan dengan tuan Nolan lagi, batinnya memohon dengan sungguh-sungguh. Pertemuan tak terduga di mobil tadi siang sudah cukup membuatnya merasa tidak nyaman.

BRUKK.

Namun, takdir seolah sedang mempermainkannya. Suasana temaram di dalam kediaman Mahendra yang luas itu justru membuat mereka tidak sengaja bertabrakan di lorong dekat tangga. Tubuh Airin yang kecil menabrak sesuatu yang keras dan tinggi.

'Aduhh, matilah aku,' gumam Airin dalam hati, menebak dengan jantung berdebar siapa yang baru saja ditabraknya dalam cahaya yang remang-remang ini. Ia bisa merasakan aroma maskulin yang familiar menusuk hidungnya.

Suasana seketika menjadi semakin hening dan canggung. Meskipun hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar-samar masuk melalui jendela besar di ujung lorong, Airin masih bisa melihat dengan jelas siluet wajah tampan yang begitu menggodanya.

Mata elang yang biasanya tajam itu terlihat sayu dan merah, rambutnya sedikit berantakan seperti baru saja diacak-acak, dan setelan kerja formal yang digunakannya tadi pagi kini hanya menyisakan kemeja dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang. Di saat itulah, Airin baru menyadari aroma kuat alkohol yang menguar dari tubuh Nolan. "Aroma apa ini?" lirihnya tanpa sadar.

Dengan kesadaran yang mulai menghilang akibat beberapa tegukan minuman keras yang baru saja ditelannya untuk meredakan pikirannya tentang Airin, Nolan tersenyum miring. 'Dalam keadaan seperti ini saja aku masih terbayang wajahnya,' batin Nolan, mengira semua ini hanyalah ilusi dari pikirannya yang sedang kacau. Ia bahkan tidak yakin apakah gadis di depannya ini nyata atau hanya sekadar fatamorgana.

Nolan mencubit lengannya untuk memastikan jika semua in i bukan hanya mimpi. "Shhhhh, ternyata ini sungguhan," lirihnya.

Tanpa bisa mengendalikan diri lagi, dengan kasar Nolan menarik pinggang Airin yang berusaha menjauh darinya. Dan tanpa peringatan, ia mengecup bibir mungil itu dengan kasar dan brutal, melampiaskan semua frustrasi dan keinginan yang membuncah dalam dirinya sejak pertemuan mereka di mobil tadi pagi.

"Saya akan bertanggung jawab!" lirih nolan di sela kecupannya.

*

*

*

BERSAMBUNG~

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 39 End~

    ​"Apa kamu serius, Nduk?" tanya Bik Siti dengan raut wajah cemasan begitu mendengar putrinya tiba-tiba saja pamit ingin bersekolah ke luar negeri. ​Bukannya ia tidak bangga atau tidak senang darah dagingnya berhasil mendapatkan beasiswa di universitas bergengsi, tetapi tempat yang dituju sangat jauh, sedangkan Airin masih begitu belia. Apalagi sebagai rakyat kecil, mereka sama sekali tidak memiliki saudara, kerabat, ataupun kenalan yang bisa dimintai bantuan di negara asing tersebut. ​"Bik... Bik Siti tenang saja. Airin di sana nggak bakal sendirian kok. Saya juga kebetulan mau melanjutkan kuliah di negara yang sama, jadi sekalian saya bisa menjaga dan memantau Airin di sana setiap hari!" ucap Galang ikut menimpali, berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu agar tidak khawatir. ​Airin menatap wajah lelah sang ibu, lalu menggenggam kedua tangan kasar Bik Siti dengan lembut. "Ibuk tenang saja, ya. Airin berjanji di sana pasti bisa jaga diri baik-baik. Ini semua Airin lakukan demi

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 38 Sedikit kepedulian Airin untuk Nolan

    "Hati-hati, Rin!" ucap Galang khawatir setengah mati melihat Airin berjalan tergesa-gesa menaiki anak tangga tanpa memedulikan kondisi tubuhnya yang sebenarnya belum pulih sepenuhnya. ​Meskipun lo masih sangat menyukai pria lain, gue tetap dengan senang hati bersedia nemenin lo, Rin. batin Galang pedih, menatap nanar punggung Airin yang kian menjauh meninggalkannya sendirian di anak tangga terbawah.galang terkekeh getir, "mungkin sebentar lagi gue dapat penghargaan pria terbodoh sedunia." ​Galang tahu betul seberapa besar Airin mengkhawatirkan pamannya saat ini. Hatinya tentu saja sakit melihat gadis yang dicintainya begitu mencemaskan laki-laki lain. Namun, ada hal yang jauh lebih menyakitkan bagi Galang, yaitu membiarkan Airin seorang diri menghadapi situasi pelik dan kenyataan pahit ini. ​"Walaupun hanya sebagai cadangan... sampai kapan pun gue rela, Rin!" gumam Galang lirih penuh ketulusan, sebelum akhirnya melangkahkan kaki lebar-lebar menyusul Airin ke lantai dua. ​Sementa

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 37 Terpuruknya Nolan

    Dua hari ini, dunia Nolan seolah benar-benar runtuh . Pria matang yang biasanya dikenal gila kerja itu sama sekali tidak menginjakkan kakinya di kantor. Banyak sekali agenda penting dan rapat krusial yang tertunda, hingga membuat asisten pribadinya kelabakan setengah mati menghadapi para investor. ​"Pak, ini berkas-berkas penting perusahaan yang harus Anda tanda tangani segera!" ucap Kevin dengan nada suara yang sangat berhati-hati. Ia terpaksa membawa tumpukan dokumen itu langsung ke kediaman Mahendra karena situasi kantor sudah sangat mendesak. ​Di dalam kamar utama yang temaram, Nolan tampak mengurung diri. CEO tampan yang biasanya selalu tampil necis, rapi, dan berwibawa itu kini terduduk lemas di lantai kamar, menyandarkan punggungnya pada tepi ranjang miliknya. Penampilannya benar-benar lusuh dan berantakan. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kusut, dan di sekelilingnya berserakan belasan botol alkohol kosong. ​"Taruh di sana!" sahut Nolan parau dengan sisa-sisa kesadarannya ya

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 36 Kehamilan

    Airin mengerjapkan matanya pelan, mencoba menghalau rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya. Netranya perlahan terbuka sempurna. ​Di mana ini? batin Airin kebingungan saat menatap langit-langit kamar berwarna putih pucat yang terasa sangat asing. Bau khas antiseptik yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya, membuat Airin segera mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. ​Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sosok Galang. Cowok itu tengah duduk di kursi jaga samping ranjang, fokus menatap selembar kertas di tangannya dengan raut wajah yang teramat serius. ​"Galang...?" panggil Airin dengan suara yang teramat lemah. ​"Lo udah bangun, Rin?" sahut Galang cepat. Ia tersentak, lalu dengan gerakan kilat segera menyembunyikan selembar kertas yang tadi dibacanya ke dalam saku jaket. ​Airin masih tampak kebingungan, mencoba mengingat rentetan kejadian sebelum kesadarannya hilang. "Kok... aku bisa ada di sini?" ​"Tadi lo pingsan di pinggir jalan, Rin. Gue

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 35 Keputusan untuk mengakhiri

    Semenjak kehadiran Shofia kembali di rumah itu, Airin dan Nolan sudah jarang lagi terlihat dekat seperti dulu. Bahkan, Airin selalu terlihat sengaja menghindari Nolan. Begitupun dengan Nolan yang memang akhir-akhir ini jarang berada di rumah. Pria itu benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya di kantor yang sedang dalam keadaan kritis. Ada bawahan Nolan yang mencuri berkas rahasia perusahaannya dan menjualnya kepada pihak musuh, membuatnya mau tak mau harus menguras waktu dan energinya untuk menyelamtkan perusahaannya ​Sore itu, Airin berjalan gundah di trotoar jalanan yang cukup sepi. Pikirannya melayang, membuatnya berjalan tanpa arah dengan raut wajah yang teramat murung. ​Tin! ​"Masuk!" ucap Nolan tegas sembari menurunkan sedikit kaca mobilnya. ​Airin yang sejak tadi tidak fokus dan terlihat murung, seketika tersentak mendengar suara bariton itu. Ia menoleh, menatap ke arah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan, tepat di samping tempatnya berdiri saat ini

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 34 kedatangan mantan istri Nolan

    ​"Apa sih, Lang?" ​Galang tiba-tiba saja merentangkan tangannya di ambang pintu ruang tengah, menghadang total jalur yang akan dilewati Airin. Gerakan spontan itu sukses membuat langkah Airin terhenti mendadak karena terkejut. ​"Berangkat sekolah sama gue!" ucap Galang dengan nada memerintah, sedikit memaksa. ​Airin mendongak, menatap Galang yang sudah berpenampilan rapi dengan seragam putih abu-abu melekat pas di tubuh atletisnya. "Nggak!" sahut Airin singkat. Ia meraih pergelangan tangan Galang, menariknya turun dengan paksa agar tidak lagi menghalangi jalannya, lalu berjalan cepat meninggalkan cowok itu. ​"Emang gue ada ngizinin lo buat nolak?" sahut Galang santai sekaligus songong. Dengan langkah lebar, ia dengan mudah mengejar dan menyamai langkah kaki Airin. ​Airin akhirnya menghentikan langkah kaki tepat di teras depan kediaman mewah Mahendra. Di sana, sebuah motor sport hitam milik Galang sudah terparkir gagah, siap untuk dipacu. ​Dengan tampang berandalan andalannya, Ga

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 5 Perjanjian Rahasia

    "I-ini semua isi perjanjiannya, tuan?!" Airin benar-benar tercengang setelah membaca isi kertas di tangannya. Meskipun konyol, isinya benar-benar menjebak! Sedangkan untuk dirinya? Zonk! ​Nolan maju selangkah, memangkas jarak hingga Airin bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang seakan tidak pe

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 4 Bermalam Bersama

    Tidak ada pilihan lain, akhirnya. Malam itu, dengan terpaksa Airin tidur di kamar Nolan, majikan ibunya. Ini pun setelah mereka membuat kesepakatan yang terasa sangat absurd. Nolan tidur di kasur king size miliknya yang luas, sementara Airin tidur di sofa kulit yang berada di sudut ruangan itu. Mes

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 3 Terjebak Diantara Dua Pilihan

    Airin benar-benar terkejut dengan serangan tiba-tiba Nolan. Bahkan, ia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tubuhnya membeku sesaat sebelum akhirnya memberontak panik. Gadis itu hanya bisa memukul-mukul dada bidang Nolan dengan kedua tangannya, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dek

  • Terjerat Pesona Duda Bar-bar   BAB 1 Pertemuan Pertama

    Dia Airin, gadis SMA polos yang mendadak harus beradaptasi di rumah majikan ibunya, demi menggantikan pekerjaan ibunya yang tengah sakit."Huhh," desis Airin lirih, merasa lega selesai berbincang dengan Nolan. Pagi ini, Sudah beberapa kali Airin menghela nafas. Bahkan, jantungnya pun ikut terus be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status