Makan siang itu berlangsung hangat dan penuh tawa.Tikar besar terbentang di tepi danau, menghadap air yang berkilau tenang, sementara semilir angin membawa aroma masakan rumahan yang sederhana namun menggugah selera.Semua berkumpul tanpa jarak—Jason, Ariana, Ethan, Melly, Adelia, Maria, Jonas, dan Jemmy menikmati kebersamaan yang jarang terjadi.Ethan menjadi pusat perhatian. Bocah itu berdiri di atas batu kecil, mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri, lalu mulai bernyanyi dengan suara lantang—nada berloncatan, lirik tertukar, dan irama yang sama sekali tidak beraturan.Namun ekspresinya begitu serius, seolah ia sedang tampil di panggung besar.Tawa pun pecah.Jason menyandarkan tubuhnya, lalu bertepuk tangan berlebihan. “Baiklah, aku harus jujur,” katanya dengan nada jail. “Kau sangat berbakat dalam membuat semua orang tertawa.”Ethan memanyunkan bibirnya. “Aku bernyanyi dengan bagus!”Jason terkekeh. “Maafkan aku. Tapi sepertinya keturunan Lubis memang tidak ditakdirkan menj
Last Updated : 2025-12-13 Read more