Arlan masih membeku di tempatnya. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Sevi, kini perlahan menegang. Wajahnya terlihat kosong beberapa detik, seperti sedang menyusun jawaban yang tepat di kepalanya.Sedangkan Sevi masih menatap lurus ke arahnya. Tatapan itu menusuk seperti meminta jawaban segera, dan justru itu lebih membuat Arlan gugup.“Aku… ngigau?” tanyanya pelan.Sevi mengangguk kecil. “Iya, tadi malam.”Arlan mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun yang ia ingat hanya tidur dengan kepala yang penuh pikiran.“Aku beneran nggak sadar, sayang,” ucapnya jujur. “Aku bahkan nggak inget mimpi apa.”Sevi tidak langsung menjawab, tangannya memainkan ujung selimut pelan dan bibirnya mengerucut kecil.“Aku cuma takut aja…” lirihnya akhirnya.Kalimat itu langsung membuat dada Arlan terasa diremas. Ia mendekat lagi ke ranjang, lalu memegang kedua tangan Sevi lagi.“Aku nggak ada apa-apa sama Sonya.” Nada suaranya kali ini t
Read more