Matahari Jakarta baru saja naik ketika suasana kantor pusat mulai kembali seperti biasanya. Para karyawan keluar masuk membawa berkas, suara mesin juga kopi terdengar dari pantry.Beberapa divisi sudah memulai rapat pagi. Tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa hanya beberapa hari yang lalu direktur mereka sedang mempertaruhkan nyawa di Malang.Arlan turun dari mobil bersama Sevi. Keduanya sudah mengenakan pakaian kerja rapi yang senada"Lan." Sevi memanggil pelan saat mereka memasuki lobi."Hm?""Nanti jangan kebawa emosi."Arlan tersenyum tipis. "Aku tahu sayang""Bener?""Iya, percaya sama calon suami mu ini."Sevi menatap wajah suaminya beberapa detik. "Kamu kalau bohong kelihatan."Arlan terkekeh pelan. "Hehehe, iya aku usahain.""Iya, iya aku percaya." Sevi akhirnya ikut tersenyum.Meski begitu, ia tetap menggenggam tangan Arlan sebentar sebelum keduanya masuk ke lift. Ia tahu betul, hari ini akan menjadi ujian terbesar bagi calon suaminya.Begitu pintu lift terbuka, Maya sudah
Read more