Vanya tidak langsung menjawab.Ia berdiri di tempatnya, menatap Hani beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Tatapan itu bukan tatapan marah, bukan pula tatapan tersinggung. Justru sebaliknya, tenang, datar, dan entah kenapa membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.Lalu Vanya tersenyum.Senyum kecil, rapi, tanpa emosi berlebihan.“Tidak apa-apa,” ucapnya pelan. “Setiap orang punya caranya sendiri untuk merasa bahagia.”Ia melirik taman bunga di balik pagar itu sebentar, seolah hanya memastikan sesuatu, lalu kembali menatap Hani. “Dan aku tidak merasa perlu membandingkan.”Kalimat itu meluncur ringan, namun justru karena itulah, kata-kata itu terasa lebih menusuk. Tidak ada pembelaan, tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menjelaskan apa pun.Hani terdiam sejenak. Ekspresi puas di wajahnya barusan meredup sedikit, digantikan kerutan tipis di antara alisnya. Ia jelas mengharapkan reaksi lain, entah itu wajah terluka, suara bergetar, atau setidaknya bantahan yang me
Last Updated : 2025-12-21 Read more