Maggie merasa pikirannya terbaca orang lain. Wajahnya seketika memucat, lalu memerah."Jadi, kita bisa duduk dan makan sekarang? Kalau nggak, nanti begitu Suki bangun, makanannya nggak jadi dimakan," kata Adeline sambil melambaikan tangan, lalu memesan banyak hidangan khas. Di akhir, dia tak lupa memastikan pada Owen, "Kamu yang ngajak aku makan, berarti kamu yang traktir, 'kan?"Owen tertawa getir. "Pesan saja sesukamu."Mereka bertiga makan bersama. Selama makan, banyak hal dibicarakan. Dibanding bernostalgia dengan Owen, Adeline justru lebih tertarik pada Maggie. Tatapan bergosipnya bolak-balik menilai keduanya. "Selain atasan dan bawahan, kakak dan adik kelas, kalian masih ada hubungan lain nggak?"Maggie mengernyit, refleks melambaikan tangan untuk menyangkal. "Nggak ada."Adeline melirik Owen dengan penuh arti. "Oh, berarti belum berhasil dikejar." Dia menggeleng dengan sikap seolah-olah menyesalkan ketidakbecusan seseorang, lalu menoleh ke Maggie."Aku ceritakan satu aibnya ya.
Mehr lesen