Dunia itu tidak punya langit.Atau mungkin punya, tapi langitnya memilih untuk tidak ikut tampil. Yang terlihat hanya semacam lengkungan kabut hitam yang bergerak mengikuti napas Ravika, seperti kupu-kupu yang tersesat dalam tubuh paus raksasa. Tidak ada warna, tidak ada horizon. Hanya gelap yang memiliki struktur, gelap yang punya motif, gelap yang menjaga rahasia lebih rapat daripada mulut manusia yang membawa dosa.Ravika melangkah, dan tanah—jika itu bisa disebut tanah—bergetar pelan. Permukaannya seperti kaca kusam, tapi bukan kaca. Lebih seperti tulang yang diawetkan selama ribuan tahun, dihaluskan oleh waktu, tapi masih mengandung gema orang-orang yang pernah dipatahkan di atasnya.Suara Bayang itu mengikuti di belakangnya. “Kau berjalan seperti seseorang yang sudah pernah ke sini.”“Aku belum pernah,” jawab Ravika tanpa menoleh.“Jiwa Penjagamu pernah.”Ravika merasakan getaran kecil dari dalam dirinya, seperti jari tua yang mengetuk sisi batin, tidak marah, hanya memperingatk
Última actualización : 2025-12-04 Leer más