Jam dinding di ruang tengah menunjuk angka yang sama setiap pagi. Enam lewat sepuluh. Ravika selalu meliriknya tanpa sadar, seperti memastikan dunia masih berjalan dengan ritme yang bisa ia ikuti.Hari ini tidak berbeda. Ia bangun, merapikan tempat tidur, lalu ke dapur. Air mendidih. Kopi diseduh. Bau pahitnya mengisi ruangan kecil itu, bercampur dengan suara sendal yang diseret pelan dari arah teras.Arven muncul dengan rambut masih acak dan kaus tipis. “Pagi,” katanya.“Pagi,” jawab Ravika. “Lo bangun lebih awal.”“Gak bisa tidur lagi,” jawabnya singkat, lalu duduk di kursi dekat meja.Ravika menuang kopi ke dua cangkir tanpa bertanya. Gerakan itu terjadi begitu saja. Setelahnya, ada jeda kecil—cukup lama untuk disadari, tidak cukup lama untuk jadi canggung.Mereka minum dalam diam.“Gue berangkat jam tujuh,” kata Ravika akhirnya. “Ada meeting pagi.”Arven mengangguk. “Gue juga mau keluar. Ada urusan.”Tidak ada penjelasan. Tidak dibutuhkan.Ravika berdiri, mencuci cangkir. Arven me
Terakhir Diperbarui : 2026-01-10 Baca selengkapnya