Pagi datang tanpa tanda apa pun.Tidak ada hujan sisa semalam, tidak ada cahaya berlebihan, tidak juga rasa berat yang biasanya tertinggal setelah percakapan penting. Ravika bangun seperti biasa—oleh suara motor lewat dan ayam tetangga yang selalu salah waktu.Ia membuka mata, menatap langit-langit sebentar, lalu bangkit.Hari ini tidak menjanjikan apa-apa. Dan justru itu yang membuatnya terasa ringan.Di dapur, Ravika menyiapkan sarapan seperti rutinitas yang mulai mapan: nasi hangat, telur ceplok, sambal sisa semalam. Ia memasak untuk dirinya sendiri, tanpa hitung siapa yang akan ikut. Jika ada yang mau, silakan. Jika tidak, juga tidak apa-apa.Saat ia sedang mematikan kompor, Arven muncul dengan handuk di bahu.“Pagi,” katanya.“Pagi.”Arven melirik wajan. “Ada Telur satu lagi gak?”“Ada. Ambil aja tuh di wajan.”Arven mengangguk, mengambil piring sendiri. Tidak ada basa-basi soal kebersamaan. Tidak ada ekspektasi makan bareng. Tapi akhirnya mereka duduk di meja yang sama juga.Ma
Read more