Ravika mendarat keras di sesuatu yang terasa kayak lantai… tapi juga bukan lantai. Teksturnya lembut kayak lumut, tapi bergerak—berdenyut—seolah napasnya sendiri. Udara di sini dingin, basah, dan nyangkut di tenggorokan kayak rahasia yang males diucap.Ia bangkit perlahan, kepala masih muter, spiral di dada makin terasa seperti mesin yang dipaksa jalan dengan bensin oplosan.“Gue di mana lagi, ini…” gumamnya.Jawabannya datang bukan dari Bayang—karena Bayang nggak ada. Ia benar-benar sendirian.Ruangan tempat ia jatuh kini berubah jadi… halaman rumah kecil. Ada ayunan tua. Ada ember cat yang udah mengering. Ada sepatu kecil yang tertinggal di tangga. Semua tampak nyata, tapi warnanya kayak dicuci pakai soft filter—suram, pastel, dan murung.Di ayunan itu, anak tadi duduk.Ia mengayun pelan, tanpa senyum, tanpa ekspresi. Angin nggak ada, tapi ayunannya bergerak terus, kayak realitas sengaja ngedorongnya.“Akhirnya,” katanya. “Kau datang.”Ravika maju satu langkah. “Gue nggak datang bua
Última actualización : 2025-12-12 Leer más