Pagi itu bandara internasional masih dipeluk kabut tipis. Lampu-lampu putih memantul di lantai mengilap, menciptakan suasana sunyi yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang biasa Neil kenal. Lena berjalan di sampingnya, tangannya menggenggam erat tangan Neil, seolah takut jika ia melepaskannya—even for a second—semuanya akan kembali runtuh.“Kau yakin tidak kelelahan?” tanya Lena untuk kesekian kalinya, matanya menelusuri wajah Neil yang kini tampak lebih segar, meski masih menyimpan sisa keletihan.Neil tersenyum kecil. “Aku masih hidup, Lena. Itu saja sudah lebih dari cukup.”Lena mendengus pelan. “Jawaban diplomatis.”Mereka berhenti sejenak di dekat jendela besar. Sebuah pesawat bersiap lepas landas, suaranya bergemuruh rendah. Neil menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Aneh, ya. Dulu setiap kali naik pesawat, aku selalu memikirkan urusan, target, dan masalah. Sekarang… aku hanya ingin sampai di tujuan bersamamu.”Lena menoleh, senyumnya lembut. “Itu terdengar seperti bulan ma
Last Updated : 2026-01-16 Read more