Mereka menaiki tangga besar menuju lantai atas. Kamar utama terbuka, memperlihatkan ruangan luas dengan jendela besar, sofa empuk, dan ranjang megah di tengahnya. Lena berdiri mematung. “Ini… kamar kita?” “Kamar utamaku,” jawab Neil. “Yang sekarang juga jadi milikmu.” Lena berjalan perlahan, menyentuh sandaran sofa seolah memastikan semua itu nyata. Ia lalu duduk, masih terdiam karena kagum. Tangannya refleks meraih remote dan menyalakan televisi. Layar menampilkan berita kriminal—gambar-gambar polisi, garis kuning, dan suara pembawa berita yang serius. Belum sempat Lena benar-benar menyimak, ponsel Neil berdering. Neil mengernyit, menatap layar, lalu menjawabnya. “Ya,” katanya singkat. Nada suaranya berubah serius. Lena memperhatikannya, jantungnya berdegup tanpa alasan jelas. “Aku mengerti,” lanjut Neil. “Aku akan segera ke kantor.” Ia menutup telepon, lalu menatap Lena. “Aku harus pergi sebentar.” “Sekarang?” tanya Lena. “Ya,” jawab Neil sambil mengambil jasny
Last Updated : 2026-01-12 Read more