“Bangun, bangun.”Ara menggeliat malas. Suara serak Sagara terasa begitu dekat di telinganya, namun yang membuatnya benar-benar risih adalah sentuhan yang mendarat di wajahnya. Begitu ia membuka mata dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia mendapati Sagara tidak hanya memanggilnya, tetapi juga sedang menciumi pipi dan keningnya dengan intens.”Gara, apaan sih? Jangan ganggu dulu,” gumam Ara sambil berusaha mendorong wajah pria itu, suaranya parau khas orang baru bangun tidur.”Bangun, ‘kan nanti mau nikah. Aku gak mau kita terlambat sedetik pun. Ayo bangun, Istriku,” bisik Sagara lagi, bukannya menjauh, ia malah semakin gemas melihat wajah bantal Ara.Ara mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pandangannya pada cahaya remang di dalam kamar rumah sakit itu. “Ini jam berapa sih? Masih jam 4 sore, ‘kan, nikahnya?” tanyanya asal, karena seingatnya ia baru saja memejamkan mata setelah kelelahan mengobrol pukul 1 malam tadi.“Iya, tapi ini udah jam 3 sih,” jawab Sagara santai sam
Last Updated : 2026-01-27 Read more