Sementara Raymond menunggu di lobi, Dirga mengantar Laras ke Puskesmas tempat wanita itu internship. Sepanjang perjalanan, dokter tampan selalu menggenggam tangan istri, sesekali meremasnya lembut, berharap mendapat respons hangat. Nahas, tidak ada balasan dari wanita itu.Laras terus diam, menatap lurus ke jalan."Sayang, udah, ya, jangan marah lagi," pinta Dirga pelan, ekor matanya melirik sebentar.Laras bergeming, napasnya teratur dan pandangannya tak beralih sedikit pun. Tanpa menoleh dan ia hanya bergumam, "Nggak marah, kok, Mas. Cuma kecewa aja." Rasa dikhianati masih terlalu nyata.Dirga meminggirkan mobil tepat sebelum beberapa meter di depan Puskesmas. Ia melepas sabuk pengamannya dan memutar tubuh menghadap istri, tangan besarnya mencubit pelan dagu wanita itui. "Jangan marah dan kecewa." Tatapan Dirga memaksa, suaranya juga penuh penekanan. "Saya melakukan semua ini demi kebaikan kita, Sayang. Saya hanya ingin memastikan masa depan kita aman. Itu saja."Laras tetap diam
Read more