LOGIN"Kalau saya teruskan ... nggak jamin bisa berhenti." Bisikan pria itu terasa menyengat. Laras tak menyangka niatnya untuk kabur dari suami bejat, malah membawanya ke atas ranjang milik pria luar biasa. Mampukah Laras menanggung skandal yang mungkin menghancurkan segalanya?
View MoreEsoknya, Randy bangun lebih awal. Bukan untuk menemui Dinda atau berangkat kerja pagi-pagi. Melainkan datang ke apartemen atasannya. Namun, ia harus berpuas diri, lantaran saat ini Dirga sedang sibuk mengimunisasi Leksa dan Laksa. Dua bayi itu baru saja bangun tidur dan selesai menyusu langsung pada maminya.Dengan bantuan Laras yang memegang kaki dan tangan Leksa agar tidak banyak bergerak, Dirga gegas mengenakan sarung tangan steril. Ia menyiapkan spuit kecil berisi vaksin, lalu dengan gerakan teramat hati-hati agar tidak membuat anaknya trauma, ia menyuntikkan cairan imunisasi pada paha Leksa.Seketika, Leksa menjerit, tangisan nyaring memenuhi ruangan apartemen. Bahkan Ratih yang sedang menyiapkan sarapan sehat untu Laras melongok sambil mememlk sutil. “Duh, Leksa. Nenek kaget,” gumamnya.Sigap Laras mendekat dan mengusap pipi Leksa yang memerah. “Sakit sebentar, Sayang. Sebentar saja, ya, Nak? Mami peluk, cup cup cup,” bisiknya dengan nada keibuan.Dirga menarik jarumnya dan memel
Pagi tadi, Randy yang baru saja tiba di rumah sakit, matanya tertuju pada Dinda. Gadis itu sudah sibuk berganti shift dengan dokter sebelumnya. Ia yang ingin menghampiri pun urung. Ada banyak kata yang ingin disampaikannya tentang perbincangan semalam. Ia benaran serius. Mencari wanita untuk pendamping hidup, bukan lagi sekadar teman kencan belaka.Sudut bibir Randy tertarik ke atas kala Dinda juga berhenti sesaat untuk menatapnya, sebelum akhirnya gadis itu sadar akan tugasnya lagi. Namun Dinda sempat mengangguk kecil pada Randy.“Itu artinya kamu setuju sama saya,” gumam Randy, main tafsir sendiri.Sepanjang hari itu, Randy tidak berhasil bertemu Dinda secara pribadi karena kesibukan masing-masing. Ia harus mendampingi Dirga rapat penting dengan pemasok obat-obatan dan perlatan medis, lalu setelahnya langsung menuju kampus untuk mendampingi Dirga sebagai tamu seminar di Fakultas Kedokteran. Pekerjaan membuat pikirannya teralihkan sejenak, tetapi niatnya tetap bulat.Sore harinya, sa
Pagi harinya di rumah minimalis komplek perumahan yang agak jauh dari pusat kota, Raymond sudah terbangun. Ia memandangi kaki palsunya yang bersandar di tepi ranjang. Lalu pandangannya pun jatuh pada sisi ranjang lainnya. Istrinya sudah tidak ada, wanita itu pasti di dapur. Ketidakmampuan Raymond membayar ART membuat istrinya berhemat habis-habisan. Namun Raisa dan Rain masih bisa kuliah di luar negeri, meskipun kehidupannya morat-marit.Perlahan Raymond memakai kaki palsunya, berjalan ke dapur. Ia melihat sudah ada nasi bungkus di atas piring. Makanan yang dulu dianggapnya menjijikkan kini harus disantapnnya setiap hari, sehari dua kali.“Jadi ke rutan? Aku nggak ikut. Takut ganggu. Kamu aja sama sopir. Biar nanti dia dikasih uang rokok dan jajan. Perginya nggak lama?” runtut istri Raymond itu. Sambil menyodorkan piring.“Sebentar. Mau ketemu Rama. Aku mandi dulu, baru makan,” kata Raymond Sambil tangannnya merayap di dinding.“Ya, sudah aku maka duluan. Air hangatnya ada di ember.” I
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, keheningan menyergap dalam kabin Porsche hitam. Baik Dinda atau Randy sesekali hanya saling melirik, sedangkan Dirga lebih banyak diam, atau lebih tepatnya memeriksa ponsel, dan menggulir layarnya dengan cekatan.‘Raymond, pria itu tidak pernah bosan mengganggu!’ pikir Dirga, tangannya mengepal keras dan napasnya menderu kasar.Satu keyakinan dokter tampan itu kalau Raymond belumlah berubah, tidak akan pernah! Ia tahu perangai pria itu, bahkan usai kehilangan semua, masih mencoba segala cara.Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di apartemen. Tanpa menekan bel, Dirga memasukkan sandinya. Pintu terbuka, dan tepat sebelum melangkah masuk, bibirnya melengkung ke atas.Pandangan pertama Dirga tertuju pada Laras, istri kecilnya itu mengenakan daster menyusui motif batik ungu muda, rambutnya dijepit tinggi ke atas, menyisakan banyak anak rambut pada tengkuknya, senyumnya mengembang sempurna ke arahnya.“Mas Dokter,” sambut Laras, seraya berla






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore