“Malu Bang…masa sih buka baju?” kata Lana ogah lepas baju, hatinya mulai deg degan juga.“Ya terserah sih, tapi kalau masuk angin, di sini nggak ada obat loh, mana ujan makin deras lagi,” sahut Rey santai, padahal hatinya ngarep banget, mau lihat body aduhai Lana.Lana diam sesaat, akhirnya dia ngalah juga dan pelan-pelan lepas kaosnya, lalu taruh di kursi dan buru – buru ngelap tubuhnya pake handuk sambil nutupin dua gunung kembar gedenya.Rey menatapnya sampai tak berkedip, apalagi saat melihat ketiak mulus tanpa bulu Lana, jakunnya kontan turun naik.“Masa di tutupin, itu nya kamu indah kok?” canda Rey sambil duduk di dekat Lana, sehingga si cantik ini makin serba salah, mata mata si calon bangor ini melotai gicuu menatap dirinya, apa nggak makin gugup jadinya.“Ihh Abang maaahh, jangan gitu atuuuh? Aku malu tau nggak mempunyai payudara gede, dulu waktu SD sampai SMP sering di ejek teman-temanku. Pacarku juga bilang kenapa bisa gede, jengkel banget aku jadinya,” cetus Lana.“Pacar
Ler mais