Dengan langkah gontai Romeo pergi dari kafe ini, dia kini termangu bersandarkan mobil mewahnya, yang tanpa di sadarinya bersebelahan dengan mobil sedan mewah milik Tommy, yang sebelumnya jemput Yuli dan orang tuanya.“Kok bisa…Yuli juga segitu senangnya, bahkan mau-maunya di gandeng segala,” gumam Romeo masih galau tak terkira, tak menyangka kekasih begitu.Tanpa sadar, sudah hampir 40 menitan dia di sini dengan pikiran campur aduk, dan tak lama kemudian Ujang dan Beti muncul.“Heiii Meong, ngapain ye di sini, kok nggak di dalam kafe nungguin kami,” tegur Beti. Ujang yang lebih peka menatap wajah galau sahabatnya ini.“Kayaknya ada masalah ini,” batin Ujang menatap wajah keruh Romeo yang diterangi lampu halaman kafe ini merangkap parkir yang lumayan luas ini. “Romeo, ada apa, ceritalah,” kata Ujang.“Yuli…Jang, Bet!” tanpa ragu Romeo pun ceritakan apa yang ia dengar barusan di kafe ini, sehingga Ujang dan Beti saling pandang, kaget juga pastinya.“Waduuuh…kok bisa gitu yaah,” seru Uja
Read more