Siang mulai berganti sore. Di lobi hotel yang mewah dan sejuk, Theo dan Kenan duduk bersantai, masing-masing dengan secangkir kopi. Mereka tampak rileks, namun hanya satu dari mereka yang benar-benar menikmati suasana. Kenan duduk tegak, tatapannya kosong, lalu tiba-tiba menegang.Pandangan matanya tertumbuk pada sosok yang sangat dikenalnya. Seorang wanita berkerudung elegan sedang berbincang santai dengan seorang pria tampan berwajah khas Turki. Jifanya. Dan lelaki itu bukan orang asing Fidan Khan. Bangsawan berdarah biru, sahabat lama, sekaligus, batu sandungan dalam rumah tangganya.Kenan bergeming. Wajahnya berubah drastis, matanya membulat, bibirnya mengatup rapat.“Kenapa, Nan?” tanya Theo bingung, ikut menoleh ke arah yang ditatap sahabatnya.Kenan menyesap kopinya, tapi kali ini bukan karena kenikmatan, melainkan untuk menutupi gejolak hatinya. “Kalau kayak gini, gue pengen mabuk dan minum bir,” gumamny
Last Updated : 2026-02-04 Read more