Pagi itu langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut menyimpan perasaan yang tak terucapkan di dada Bayu. Di bandara internasional Soekarno-Hatta, lelaki itu berdiri di samping koper hitamnya, mengenakan hoodie abu-abu dan tas ransel hitam di punggungnya. Tak seperti biasanya, wajah Bayu terlihat tenang, bukan tenang karena damai, tapi karena sudah lelah melawan.Dila, kakaknya, berdiri di sampingnya. Begitu pula dengan Mustofa, ayah mereka. Keduanya tak banyak bicara, seperti mengerti betapa beratnya perpisahan ini bagi Bayu. Lelaki yang selama ini dicap pembangkang, akhirnya memilih tunduk demi satu nama. Ayah.“Pergilah, Jagoan. Nanti Ayah akan menyusul kalau pekerjaan Ayah di sini sudah selesai,” ucap Mustofa pelan, menepuk bahu putranya.Bayu mengangguk, menatap gerbang keberangkatan yang mulai dipadati orang-orang. Matanya tak berhenti mengamati sekeliling, seolah berharap, entah dari mana, sosok yang ingin ia lihat tiba-tiba muncu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-17 Baca selengkapnya