POV Angela“Tidak,” jawabku cepat.Aku mengangkat bahu, berusaha terdengar santai. “Kenapa harus menggangguku? Kita bukan…” Aku berhenti, lalu mengoreksi diri. “Itu bukan urusanku.”“Aku harap begitu,” katanya. “Jangan lupa kenapa kau ada di sini.”Aku tersenyum tipis. “Percayalah. Aku tidak pernah lupa.”"Bagus. Pastikan tetap begitu."Dia seperti tembok beton, dingin, tak tergoyahkan. Setiap gerakannya terukur, setiap katanya terdengar seperti peringatan. Dan, tentu saja, sangat menyebalkan. "Bajingan,” gumamku tanpa sadar. “Aku dengar itu," katanya dingin tanpa menoleh. "Kalau kau mau mengumpatku, pastikan kau siap menghadapi konsekuensinya."Aku menelan ludah. Sial.Sisa perjalanan berlangsung dalam keheningan sampai mobil berhenti di garasinya. Mesin masih menyala ketika dia kembali berbicara.&n
Terakhir Diperbarui : 2026-02-21 Baca selengkapnya