LOGINPOV AngelaAku menatap ponselku. Pesan yang kukirim padanya beberapa menit lalu belum juga dibalas.Delapan malam. Dijemput. Makan di luar.Itu saja.Tidak ada penjelasan.Aku menggigit bibir, ragu sejenak sebelum memutuskan meneleponnya.Nada sambung terdengar beberapa kali sampai akhirnya tersambung."Ya," suaranya rendah dan singkat."Aku dapat pesanmu," kataku."Hm."Aku menahan desah napas. "Kau bilang ada hal penting. Ada apa?""Kau akan tahu nanti," jawabnya."Tidak bisakah kau jelaskan sekarang? Aku cuma ingin tahu apa yang akan kita bicarakan.""Tidak.""Bersiap jam delapan," katanya. "Aku tidak suka menunggu."Panggilan itu berakhir sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi.Aku menghembuskan napas pelan, menjatuhkan punggung ke sandaran sofa. Kepalaku masih terasa berat sejak pagi karena alkohol semalam.
POV AaronAku akhirnya menoleh dan melihat Angela berdiri di sana. Rambutnya sedikit berantakan. Dia mengenakan pakaian lain, bukan lagi pakaian yang dia pakai di bar semalam. Kaos dan celana sederhana."Pagi," katanya, suaranya pelan, matanya menghindari tatapanku.Aku hanya melirik sekilas, lalu kembali ke cangkir kopiku. Tidak menjawab.Dia berjalan menuju kulkas, membuka pintunya, lalu mengambil sebotol air. Cairan itu mengisi gelas dengan suara pelan.Dia minum sedikit demi sedikit."Apakah kau yang menjemputku di bar semalam?" tanyanya.Aku menyesap kopi, menatapnya sebentar. "Ya."Angela terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya bersuara lagi.“Maaf,” katanya pelan. “Aku tidak bisa mengingat semuanya. Cuma potongan kecil. Apakah... aku membuat kekacauan?"Aku menatapnya, datar. "Kau muntah di trotoar. Ambil kesimpulanmu sendiri.”Dia diam, menghela n
POV AaronSaat aku memarkir mobil setelah pulang kerja, tempat biasa mobil tuanya terparkir kosong.Tanganku mengencang di setir.Dia masih memakainya.Padahal aku sudah jelas menyampaikan pada Darren, mobil itu jangan lagi dipakai.Berarti dia memilih mengabaikannya.Aku masuk ke rumah dan makan malam tanpa tergesa. Jam berdetak pelan. Sepuluh malam lewat, dan dia masih belum pulang. Gangguan kecil mulai merayap.Bennett.Nama itu muncul begitu saja. Memikirkan Angela mungkin saja bersama Bennett sekarang membuat rahangku mengeras.Aku meraih ponsel dan menekan nomornya.Nada sambung terdengar terlalu lama sebelum akhirnya terangkat. Namun suara yang menjawab bukan milik Angela.“Siapa ini?” tanyaku.“Halo,” suara perempuan itu terdengar sedikit berat. “Kau teman Angela?”Aku tidak menjelaskan. “Ya.”“Aku Beth. Manajernya,” katanya. Ada jeda singkat, lalu dia melanjutkan, “Kami ada di bar. Dia terlalu banyak minum.”Aku menutup panggilan tanpa mendengar sisanya.Bar.Aku sudah tahu
POV AngelaSiang itu aku sedang menonton salah satu acara TV tanpa benar-benar memperhatikannya ketika suara pintu depan terbuka dari luar.Aku menoleh.Darren masuk dengan setelan formalnya yang rapi."Miss Angela," sapanya sopan.Aku bangkit dari sofa. "Ada apa?""Aku tidak akan lama," dia melangkah mendekat dan meletakkan sesuatu di atas meja ruang tamu. "Atas pesan Tuan Carter."Sebuah kunci mobil.Aku menatapnya beberapa detik sebelum mengernyit. "Kalau ini kunci mobil Aaron, kau bisa langsung memberikan itu padanya."Darren menggeleng pelan. "Ini bukan miliknya.""Lalu milik siapa?""Milik Anda."Aku terdiam.Pandangan mataku kembali ke kunci itu, lalu ke wajah Darren, mencoba memastikan aku tidak salah dengar."Maaf?""Dokumennya sudah selesai," potongnya dengan nada tetap profesional. "Mobil itu terdaftar atas nama Tuan Carter, tetapi p
POV AaronUntuk ketiga kalinya malam ini, napasnya kehilangan kendali di bawah sentuhanku. Air shower jatuh tanpa henti, menutup semua suara kecuali desahnya sendiri.Aku menekannya ke dinding. Kedua tangannya kutahan di atas kepalanya, pergelangannya terkunci di telapak tanganku.Aku menunduk dan menangkap bibirnya. Dorongan lidahku memaksanya membuka mulut. Dia membalas tanpa ragu.Tanganku bergerak ke belakang untuk mematikan shower hingga suara air berhenti, hanya terdengar suara napas kami yang saling mengejar.Ciumanku turun dari rahangnya ke leher. Napasnya pecah lagi dengan desahan yang kembali keluar dari bibirnya.Satu tanganku menguasai puncak dadanya, jariku menekan dan memijat tanpa ragu. Bibirku turun ke sisi satunya, menyesap dengan tekanan yang cukup untuk membuat tubuhnya bereaksi. Desahannya yang terus menerus memacu hasratku.Jariku meluncur turun menyusuri pahanya. Matanya terpejam den
POV AngelaAku terkejut ketika wajahnya tiba-tiba begitu dekat.Jantungku berdetak terlalu cepat. Aku bisa melihat warna hazel di matanya dengan jelas, garis wajahnya. Aku juga bisa merasakan napasnya yang tenang, kontras dengan detak jantungku sendiri.Aku tidak sempat bergerak.Pandangan kami bertahan satu detik terlalu lama.Lalu matanya bergeser. Tangannya terangkat sedikit lebih tinggi, jarinya menyentuh rambutku dengan gerakan singkat dan tepat.Dia mengambil sesuatu dari sana.“Ada ini,” katanya singkat.Dia memperlihatkan serpihan kecil di jarinya. Entah sisa daun kering, atau potongan kecil sayur, mungkin dari tadi saat aku memasak.“Oh,” kataku, sedikit kikuk. “Terima kasih.”Dia mundur selangkah, memutus jarak kami begitu saja lalu kembali ke kursinya tanpa komentar tambahan.Aku menarik napas pelan dan kembali ke dapur. Piring terakhir kuletakkan di atas







