Share

Bab 31

Penulis: Masatha
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 15:29:44

Ketukan pintu membuat kami berdua tersentak.

“Permisi…” suara tenang itu milik seorang pria paruh baya—dokter jaga yang biasa memeriksa pasien di ruang ini. Aku buru-buru mendorong dada Abimanyu, dan dia cepat-cepat menjauh, berdiri seolah tak terjadi apa-apa.

Wajahku panas.

Astaga... Apa yang barusan terjadi? Bibirku masih bergetar. Ciumannya barusan... hangat. Meski aku marah, meski aku sakit hati, tapi... aku tidak bisa membohongi diri sendiri.

Aku merindukan pelukan itu. Aku mendambakan belaian itu. Dan celakanya, aku... menikmati ciuman suamiku.

Kupalingkan wajah, mencoba menyembunyikan rona yang membakar pipiku.

“Aku masih marah,” desisku pelan, tanpa menatapnya.

Abimanyu tidak menjawab. Tapi dari sudut mataku, kulihat ia tersenyum kecil. Tersenyum... seolah tahu bahwa dinding yang kubangun dengan susah payah mulai retak. Dan senyum itu membuatku makin kesal—dan makin kacau.

“Selamat pagi, Bu Florina,” sapa dokter sambil membaca catatan di tablet kecilnya. “Kondisi Ibu mulai mem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 32

    Suami dan Papa mertuaku tiba-tiba masuk kembali ke ruangan. Wajah mereka pucat, cemas... dan ada kegelisahan yang tidak bisa mereka sembunyikan. Aku langsung merasa ada yang tidak beres.Om Abimanyu—suamiku—langsung menghampiriku, tanpa berkata-kata, dia memelukku erat. Sangat erat, seakan mencoba menahan tubuhku agar tidak runtuh. Pelukannya begitu kuat, penuh kegelisahan yang sulit dijelaskan.“Aku mohon... sabar ya, Sayang,” bisiknya lirih di telingaku. “Kamu harus kuat.”Jantungku berdetak tak karuan. Tanganku refleks mencengkeram bahunya.“Ada apa, Om?” suaraku bergetar. “Kenapa... kenapa kalian begini? Om... bilang!”Dia menunduk. Matanya memerah.“Mama...” Suaranya terputus. “Mama kamu... beliau enggak bertahan, Florina.”Dunia seketika runtuh di sekelilingku. Kepalaku seperti dipukul palu godam. Mataku membelalak, tubuhku terasa ringan, dingin, seperti tak bernyawa.“T-tidak...” bibirku gemetar. “Om bohong... Mama masih di ICU! Om bohong!”Aku mendorong tubuh suamiku, berusaha

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 31

    Ketukan pintu membuat kami berdua tersentak.“Permisi…” suara tenang itu milik seorang pria paruh baya—dokter jaga yang biasa memeriksa pasien di ruang ini. Aku buru-buru mendorong dada Abimanyu, dan dia cepat-cepat menjauh, berdiri seolah tak terjadi apa-apa.Wajahku panas.Astaga... Apa yang barusan terjadi? Bibirku masih bergetar. Ciumannya barusan... hangat. Meski aku marah, meski aku sakit hati, tapi... aku tidak bisa membohongi diri sendiri.Aku merindukan pelukan itu. Aku mendambakan belaian itu. Dan celakanya, aku... menikmati ciuman suamiku.Kupalingkan wajah, mencoba menyembunyikan rona yang membakar pipiku.“Aku masih marah,” desisku pelan, tanpa menatapnya.Abimanyu tidak menjawab. Tapi dari sudut mataku, kulihat ia tersenyum kecil. Tersenyum... seolah tahu bahwa dinding yang kubangun dengan susah payah mulai retak. Dan senyum itu membuatku makin kesal—dan makin kacau.“Selamat pagi, Bu Florina,” sapa dokter sambil membaca catatan di tablet kecilnya. “Kondisi Ibu mulai mem

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 30

    POV Florina.Aku benci dia...Benci pada cara dia menyebut namaku seolah tak ada yang salah di antara kami. Benci pada ketenangan suaranya, saat jiwaku adalah badai tak bernama. Benci pada kelembutannya, yang kini mulai meretas celah-celah hatiku yang retak.Aku benci Om Abimanyu. Tapi... mengapa di dalam dekapannya, aku merasa damai?Mengapa di tengah gelapnya malam yang tak kukenal, dekapan pria itu justru terasa seperti rumah? Entah ini suara hatiku, atau suara halus dari kehidupan mungil yang kini kutitipkan di rahimku.Mungkin ini cinta. Atau sekadar bias dari rasa lelah yang tak pernah kutumpahkan.Atau mungkin... aku hanya terlalu rindu, terlalu rapuh, terlalu ingin dimengerti.Dia mendekatiku, membawa semangkuk bubur yang mulai hangat dengan uap kesabaran.“Pelan-pelan makannya,” katanya, dengan suara serupa gumaman angin sore yang membelai ubun-ubun.Tangannya menggenggam sendok, lalu menyuapik

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 29

    POV FlorinaAku kira dengan rasa benci bisa melupakannya, tetapi ketika aku mendapat kabar dari Kak Putra jika Om Abimanyu baru saja keluar dari kamar hotel dengan seorang perempuan hatiku terasa sakit. Ternyata cintaku padanya tak sedangkal itu.Dengan penuh tekat, akupun mengirim pesan untuk bercerai.Bahkan tanganku sampai gemetar, ponsel yang aku pegang terjatuh ke lantai. Begini saja aku sudah tidak mampu menanggungnya, apakah selemah ini diriku? Tiba-tiba terdengar bunyi teriakan dari tetangga, aku yang panik segera menghapus air mata dan keluar dari rumah. "Ada apa?" tanyaku heran. Tapi perasaan aku sudah tidak enak. "Mama kamu—masuk rumah sakit!" "Hah? Kok bisa?" pekikku syok."Tadi katanya di warung ada orang yang menghina kamu, mama kamu nggak terima dan akhirnya mereka berantem. Mama kamu lawan tiga loh, walau menang tapi akhirnya pingsan dan banyak luka."Aku langsung meminta bantuan tet

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 28

    Aku bukan tipe laki-laki yang senang menghabiskan malam di tempat bising dengan lampu kelap-kelip dan dentuman musik. Tapi malam ini, aku membiarkan diriku hanyut dalam kebodohan yang dirancang oleh dua sahabatku—Tian dan Abbas.Abbas akan segera menikah dan pindah ke Bandung bersama istrinya. Sebuah babak baru dalam hidupnya yang seharusnya dirayakan. Dan Tian, seperti biasa, menyarankan sesuatu yang tidak pernah aku setujui sejak dulu, tapi kali ini aku tak punya tenaga untuk menolak."Ayo, sekali ini aja, Bi. Mumpung kita masih bisa ngumpul bertiga. Nanti kalau kamu sudah punya anak, makin susah kita ketemu," ujar Tian sambil tertawa, menepuk bahu Abbas.Aku hanya mengangguk pelan, mengangkat gelas tanpa semangat. Tenggorokanku terasa pahit, bahkan sebelum alkohol itu menyentuh lidahku.Jujur saja, aku masih belum pulih sepenuhnya dari demam. Tubuhku lelah. Tapi lebih lelah lagi hati ini. Di antara ribuan langkah kaki orang-orang asing malam it

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 27

    Tubuhku masih belum benar-benar pulih. Tapi berdiam diri di rumah justru membuatku lebih sakit dari sekadar demam.Tiap sudut rumah ini penuh dengan bayang-bayangnya. Bayang seorang perempuan yang masih memanggilku “Om” dengan suara lembut tapi menohok, yang diam-diam mengisi seluruh isi hidupku tanpa izin, dan sekarang memilih pergi, meninggalkanku dengan sunyi yang mencekik.Aku duduk di belakang kemudi, menatap kaca spion.Wajahku pucat. Mata sayu. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari dada ini yang makin hari makin sesak karena tidak bisa memeluknya.Florina.Aku tahu aku brengsek.Aku tahu aku menyakitimu.Tapi... aku juga manusia. Yang pada akhirnya mencintai lebih dalam daripada yang kuprediksi.Sampai di kantor, semua terasa datar. Lobi yang biasanya aku lewati tanpa pikir sekarang terasa seperti lorong panjang penjara. Senyum para staf tidak menyentuhku hari ini. Tidak ada yang bisa menyentuhku har

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status