Briony terpancing. "Kau bisa memegang omonganmu itu?" "Ya," sahut Alex cepat. Namun, Briony tetap meragukan jawabannya."Maaf, Andrew. Aku tidak bisa memercayai ayahmu. Kenapa tidak kau saja yang datang ke sini? Kau boleh menginap sampai kakiku sembuh," usul Briony. Alis Andrew berkerut ragu. "Apakah itu artinya aku harus berpisah dengan Papa dan robot-robotku?" "Itu satu-satunya cara kalau kau mau bertemu denganku," Briony tersenyum kecut. Andrew mencebik. Air matanya mulai membutir. "Tapi aku tidak mau meninggalkan Papa dan robot-robotku, apalagi robot merah. Aku mau tetap di sini, di kamarku. Kenapa tidak kau saja yang kemari? Apa susahnya?" Sedetik kemudian, tangisan Andrew pecah. Air matanya berderai. Briony merasa bersalah melihatnya. Saat ia hendak menenangkan Andrew, kamera telah berpindah, menyoroti wajah Alex. "Kudengar kau suka anak-anak. Karena itu, aku menaruh harapan besar padamu. Tapi ternyata, kau malah membuat Andrew menangis, padahal kau tahu dia sedang sakit?"
Last Updated : 2025-11-13 Read more