“Mba, beneran Mba mau pindah hari ini?” tanya Bu Nana dengan suara ragu.Nadine mengangguk pelan. Wajahnya tampak lesu dan sendu, seolah semalaman tidak benar-benar tidur. “Iya, Bu Nana,” jawabnya lirih.“Ya ampun, Mba,” sahut Bu Keke ikut menimpali sambil menatap tumpukan barang yang satu per satu dimasukkan ke bagasi taksi. “Kemarin kan bilangnya hari Sabtu? Ini masih hari apa, Mba.”Nadine tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. “Iya, Bu. Nggak apa-apa kok,” katanya berusaha terdengar ringan. “Nanti ibu-ibu jangan lupa main ke sana, ya. Walaupun cuma kosan kecil, tapi nyaman.”Bu Keke mendekat lalu menyentuh pundak Nadine dengan lembut. “Iya, Mba. Kami pasti main ke sana.”“Kalau ada apa-apa, telepon kita aja,” sambung Bu Nana sambil memeluk Nadine erat. “Kita siap bantu. Mba Nadine sudah saya anggap seperti saudara.”Pelukan itu dibalas Nadine tanpa ragu. Kebaikan warga di lingkungan itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih.“Makasih banyak ya, Bu,” ucap Nadine dengan su
Última actualización : 2026-01-21 Leer más